Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 25 Juli 2024 | 15.30 WIB

Peneliti ITB AD Tak Ingin Rokok Merusak Generasi Emas Anak Nasional

Ilustrasi berhenti merokok dengan memotong batang rokok untuk mendapatkan manfaat luar biasa bagi kesehatan (freepik.com) - Image

Ilustrasi berhenti merokok dengan memotong batang rokok untuk mendapatkan manfaat luar biasa bagi kesehatan (freepik.com)

 
JawaPos.com - Momentum Hari Anak Nasional diharapkan menjadi momen penting untuk membangkitkan kepedulian dan partisipasi seluruh elemen masyarakat dalam pemenuhan hak anak. Hal itu sebagaimana tertuang dalam Pasal 28B ayat 2 UUD 1945 yang menjamin hak-hak anak, seperti hak hidup, hak tumbuh dan berkembang, serta hak mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
 
Senior Institut Pengembangan Ekonomi Manusia Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta (CHED ITB-AD) Mukhaer Pakkanna menyampaikan, anak-anak di bawah usia 17 tahun adalah generasi yang akan menentukan masa depan Indonesia. Mreka salah satu penerus bonus demografi yang memerlukan perlindungan untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan optimal. 
 
"Salah satu ancaman terbesar bagi pertumbuhan anak adalah kebiasaan merokok, yang tidak hanya memperburuk kesehatan tetapi juga memicu stunting," kata Mukhaer dalam keterangannya, Rabu (24/7).
 
Ia menjelaskan, dalam riset PKJS UI, balita yang tinggal dengan orang tua perokok memiliki berat badan 1,5 kg lebih rendah dibandingkan balita yang tinggal dengan orang tua bukan perokok. Sekitar 5,5 persen balita yang tinggal dengan orang tua perokok berisiko lebih tinggi mengalami stunting. 
 
Menurut WHO, angka stunting di Indonesia masih tinggi, melebihi 20 persen. Stunting dapat menurunkan tingkat kecerdasan di bawah 70, dengan 40 persen anak yang berisiko memiliki IQ antara 71-90.
 
"Orang tua tentu tidak ingin anaknya merokok. Anak-anak harus dijauhkan dari media sosial yang mempromosikan rokok. Media sosial sangat berpengaruh dalam menarik minat anak untuk mencoba rokok," ucap Mukhaer.
 
Sementara, berdasarkan data Tobacco Enforcement & Reporting Movement (TERM) 2023 menunjukkan, lebih dari dua pertiga pemasaran produk tembakau diunggah di berbagai platform media sosial seperti Instagram (68 persen), Facebook (16 persen), dan X (14%). Industri tembakau juga memanfaatkan festival musik dan olahraga untuk menarik perhatian anak muda.
 
"Harga rokok di Indonesia termasuk yang termurah di dunia. Indonesia dan Timor Leste mencatat jumlah pria perokok di atas 15 tahun tertinggi," ucap Mukhaer.
 
Sementara, berdasarkan hasil survei sosial ekonomi BPS pada 2021 menunjukkan bahwa alokasi belanja rokok masyarakat melebihi belanja beras. Ia menyebut, rokok masih menjadi konsumsi utama masyarakat Indonesia. 
 
Berdasarkan data kemiskinan BPS, kontribusi rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan di kota sebesar 11,10 persen dan di desa sebesar 10,48 persen.
 
"Data ini menunjukkan bahwa banyak orang miskin yang mengonsumsi rokok. Namun, bukan berarti orang kaya tidak merokok, tetapi bagi mereka pengeluaran rokok relatif kecil dibandingkan barang mewah lainnya," pungkas Mukhaer.
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore