Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 24 Juni 2024 | 21.47 WIB

Soroti Naiknya Nilai Tukar Rupiah, Banggar DPR Sebut Minat Investasi Menurun

ilustrasi Rupiah dan Dolar AS. Rupiah saat ini anjlok hingga Rp 15 ribu per USD. - Image

ilustrasi Rupiah dan Dolar AS. Rupiah saat ini anjlok hingga Rp 15 ribu per USD.

JawaPos.com - Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menyoroti naiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Ia menyebut, melonjaknya nilai tukar rupiah terhadap USD mulai merangkak sejak dua tahun lalu atau 2022 lalu.

"Sejak dua tahun lalu, nilau tukar rupiah terus bergerak naik, semula dari Rp 14.000 an/ Dolar Amerika Serikat (USD) pada tahun 2022, terus merangkak Rp 14.500-15.000 an/USD di tahun 2023, dan pada semester 1 2024 ini berada di level.Rp 15.400-16.400 an/USD," kata Said kepada wartawan, Senin (24/6).
 
Said mengutarakan, pada kuartal II 2024, kinerja saham di bursa juga menunjukkan tren penurunan dibanding kurtal I 2024. Pada kuartal II 2024, IHSG April 2024 masih di level Rp 7.200, dan per akhir Mei 2024 IHSG terus melorot Rp 6.728 di 19 Juni 2024 kemarin. 
 
 
"Situasi ini menempatkan IHSG menjadi pasar saham terburuk kelima setelah Qatar, Meksiko, Brazil dan Thailand," ucap Said.
 
"Sejak akhir tahun lalu, yield SBN 10 tahun di level 6,4 persen, terus merangkak naik hingga 7,2 pada 20 Juni 2024," sambungnya.
 
Ia pun menyebut, minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara (SBN) makin turun sejak pandemi covid-19 melanda Indonesia, dari sebelum pandemi porsi asing memegang SBN sebesar Rp 38 persen, namun akhir Mei 2024 menyisakan 14 persen, sehingga kebutuhan likuiditas ke depan semakin menantang dan ketat.
 
Dalam mencermati sejumlah indikator tersebut, kata Said, minat investor asing terhadap kegiatan bisnis di Indonesia, khususnya pada sektor keuangan menurun. Hal itu disebabkan karena sentimen peningkatan yield surat utang di Amerika Serikat dan tren suku bunga tinggi di sejumlah bank sentral negara maju yang belum akan berakhir. 
 
Dengan demikian, kebutuhan pemerintah dan pelaku usaha untuk mendapatkan likuiditas ke depan akan sangat kompetitif, dan berbiaya mahal. Karena itu, untuk membantu pemerintah memiliki kelonggaran dalam pergerakan perekonomian, khususnya menghadapi sentimen negatif dari eksternal, pada sektor
keuangan, Badan Anggaran DPR menyiapkan asumsi ekonomi makro dan postur RAPBN 2025.
 
Ia menekankan, target pertumbuhan ekonomi di patok pada kisaran 5,1 sampai dengan 5,5 persen. Serta, tingkat inflasi pada kisaran 1,5 -3,5 persen.
 
Sementara, nilai tukar (kurs) Rp/USD Rp 15.300-15.900 dan yield SBN 10 tahun 6,9 - 7,2 persen. Kemudian, harga minyak mentah Indonesia 75-80.
 
Lifting minyak bumi 580-605 ribu barel, dan lifiting gas bumi 1.003-1.047 setara ribu barel.
 
"Asumi tersebut sesungguhnya tidak terpaut signifikan dari usulan asumsi ekonomi makro yang di usulkan oleh pemerintah kepada DPR, semisal, kurs batas atas Banggar DPR pada posisi Rp 15.900 sementara Pemerintah Rp 16.000," pungkasnya.
 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore