
salah satu kampus di Surabaya Universitas Airlangga//vokasi.unair.ac.id/
JawaPos.com - Suara-suara peringatan agar pemilu dijalankan dengan jujur, adil, serta tanpa intimidasi terus didengungkan berbagai pihak, dari kampus sampai tokoh-tokoh agama.
Sebab, hanya lewat proses demikian bisa didapatkan presiden, wakil presiden, serta para wakil rakyat yang kredibel dan bisa dipercaya.
Di Universitas Airlangga, Surabaya, manifesto akademisi yang dibacakan Guru Besar Sosiologi Hotman Siahaan, terdapat empat pernyataan inti. Yakni, mengecam segala bentuk praktik pelemahan demokrasi, mendesak presiden menghormati kemerdekaan hak-hak sipil, mendesak pemilu luber (langsung, umum, bebas, rahasia)-jurdil (jujur, adil) tanpa intervensi, serta mengecam intervensi dan intimidasi kebebasan di perguruan tinggi.
Seruan-seruan di atas muncul sebagai respons atas berbagai penyelewengan terhadap prinsip-prinsip republik. Upaya-upaya tersebut, menurut Hotman, muncul demi melanggengkan kepentingan kekuasaan personal belaka. ”Republik ini milik semua, bukan milik sekelompok saja,” tuturnya.
Sejumlah kampus lain di Surabaya juga menyuarakan peringatan atau keprihatinan yang sama seperti yang dilontarkan di Unair kemarin (5/2). Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), 44 guru besar turut meneken pernyataan sikap yang berisi keprihatinan atas situasi politik dan bangsa jelang pemilu yang bakal dihelat Rabu (14/2) pekan depan.
”Pernyataan ini sudah melalui serangkaian kajian dan perspektif. Kami sampaikan sesuai koridor tata kelola perguruan tinggi,” kata Guru Besar Teknik Mesin Prof Harus Laksana Guntur di sela aksi bertajuk Keluarga Besar ITS Peduli Negeri di Plaza Dr Angka Nitisastro, kampus ITS, Sukolilo, Surabaya.
Di kampus Universitas 17 Agustus 1945, Rektor Mulyanto Nugroho memimpin langsung acara bertajuk Petisi Keprihatinan atas Degradasi Demokrasi Bangsa Menjelang Pemilu 2024. Tercatat 22 guru besar, 30 anggota senat, serta ratusan sivitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa, turut hadir. Para peserta mengenakan pakaian hitam sebagai simbol kedukaan atas degradasi demokrasi.
Mulyanto menuturkan bahwa kondisi bangsa Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. ”Dibandingkan dengan kondisi 1998, kita sekarang ini lebih mundur lagi,” paparnya. (leh/zam/ama/wan/elo/syn/mia/lyn/c19/ttg)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
