LULUS: Mayor Laut (P) Akhmad Sen Sagupta (dua dari kiri) bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron saat perayaan hari nasional l’Armistice dan penutupan pendidikan di Arc de Triomphe Champs Élysée.
Mayor Laut (P) Akhmad Sen Sagupta mendapatkan ilmu perang saat mengikuti pendidikan di Ecole de Guerre di Ecole Militaire, Prancis. Dia mampu menuntaskanpendidikannya dengan nilai sempurna.
WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya
KECAKAPAN di bidang militer ditambah keahlian berbahasa Prancis membuat Mayor Laut (P) Akhmad Sen Sagupta lolos seleksi pendidikan Ecole de Guerre di Ecole Militaire. Itu adalah pendidikan level tinggi bagi perwira di Prancis. Pelatihan tersebut diikuti 200 perwira Prancis, 88 perwira asing dari 66 negara, serta 45 auditor sipil Prancis.
Saat menempuh pendidikan di Prancis, pria 38 tahun itu tidak hanya mendapatkan teori peperangan di kelas. Dia juga langsung mempraktikkannya di lapangan. Salah satunya menerbangkan pesawat tempur Rafale.
Menerbangkan pesawat Rafale merupakan pengalaman langka bagi Akhmad yang merupakan pilot TNI-AL. Sebab, dia adalah pilot yang spesialisasinya menerbangkan helikopter. Hasilnya cukup memuaskan. Dia mampu take off dan landing dengan sempurna.
”Saya satu-satunya siswa dari mancanegara yang diberi kesempatan terbang bersama dengan instruktur di wilayah teritorial udara Prancis,” jelasnya.
Sebelum menerbangkan pesawat tersebut, Akhmad wajib menjalani tes kesehatan dan cara mengoperasikan parasut. Itu merupakan antisipasi apabila saat penerbangan menemui keadaan darurat. Apalagi, dia belum pernah menerbangkan pesawat tempur.
”Saya tiga kali terbang dengan pesawat supersonic dan baru merasakannya di Prancis,” ucapnya.
Sekolah Ecole de Guerre dibangun oleh Raja Louis XV di Kota Paris pada abad ke-17. Beberapa tokoh ternama lahir dari tempat itu. Misalnya, Napoleon Bonaparte, Maréchal Fosch, dan Presiden Charles de Gaulle. Pendidikan militer ditempuh selama 20 bulan.
Setahun di Paris, Akhmad memboyong istrinya, Meta Marina Sudarman. Itu dilakukan agar Akhmad semakin bersemangat menuntaskan pendidikannya. Upayanya pun berhasil. Dia lulus dengan menyandang status cum laude. Bahkan, di mendapat dua kali undangan bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Pada 29 Juni 2023, pria yang juga pernah menjabat Wadanron 200 Wing Udara 2 Puspenerbal itu lulus. Prosesi pengukuhannya digelar di lapangan upacara École Militaire, Paris. Dia pun berhak memakai brevet Ecole de Guerre.
Selain itu, dia juga sempat kuliah di PSL Universite Paris. Pendidikan tersebut mampu dituntaskan dengan nilai yang memuaskan. Akhmad menyandang predikat master bidang geopolitique stratégique. (*/c6/aph)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
