Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 30 September 2023 | 15.32 WIB

Mengenal 7 Pahlawan Revolusi yang Gugur dalam Peristiwa G30S PKI 58 Tahun Lalu

Monumen Pancasila Sakti, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (wikimedia) - Image

Monumen Pancasila Sakti, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur (wikimedia)

JawaPos.com – Pahlawan revolusi merupakan julukan bagi tujuh perwira militer TNI AD yang gugur dalam G30S/PKI atau Gerakan 30 September berdasarkan Keputusan Presiden pada 1965.

G30S/PKI merupakan peristiwa sejarah kelam bagi Indonesia, yang diperingati setiap 30 September. Pada saat itu, terjadi pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang bertujuan mengubah ideologi bangsa indonesia.

Peristiwa ini berawal dari aksi penculikan terhadap sederet jenderal TNI AD dari 30 September hingga 1 Oktober 1965. Jasad jenderal yang dibunuh di Lubang Buaya tersebut ditemukan oleh Satuan Resimen Anggota Komando Angkatan Darat pada 4 Oktober 1965.

Untuk mengenang pahlawan revolusi Indonesia, berikut Berikut daftar 7 pahlawan revolusi dan bagaimana mereka menjadi korban kekejaman peristiwa G30S PKI yang dikutip JawaPos.com dari Radar Malang (30/9/21):

1. Jendral Ahmad Yani

Awal mula peristiwa penculikan terjadi di kediaman Jenderal Ahmad Yani di Jalan Latuharhary di kawasan Menteng, Jakarta Pusat pada dini hari. Sebelum kejadian, diketahui rumah tersebut telah dikepung oleh 200 pasukan. Jasad petinggi militer yang saat itu menjabat sebagai Menteri/ Panglima AD/ Staf Komando Operasi Tertinggi tersebut dibuang di Lubang Buaya bersama 5 petinggi militer lainnya.

Jenderal Ahmad Yani lahir di Jenar, Purworejo pada 19 Juni 1922. Awalnya, Jenderal Ahmad Yani mengikuti pendidikan Heiho di Magelang dan PETA (Pembela Tanah Air) di Bogor. Ahmad Yani pernah terlibat dalam Agresi Militer Pertama Belanda, Agresi Militer Kedua Belanda, serta melawan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang membuat kekacauan di daerah Jawa Tengah.

Pada 1962, Ahmad Yani diangkat menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat. Ia sempat menolak keinginan partai untuk membentuk Angkatan Kelima, yang terdiri dari buruh dan tani yang dipersenjatai. Oleh karena itu, Ahmad Yani menjadi salah satu target PKI yang diculik dan dibunuh lewat G30S PKI.

2. Mayjen Raden Suprapto

Mayjen Raden Suprapto yang menjabat sebagai Deputi II/Menteri Panglima AD di bidang Administrasi ini menjadi salah satu korban keganasan PKI pada peristiwa G30S/PKI yang juga dibuang di kawasan Lubang Buaya. Jasadnya kemudian dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata bersama pahlawan revolusi lainnya.

Mayjen R.Suprapto lahir pada 20 Juni 1920 di Purwokerto. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya, Mayjen R. Suprapto lalu mengikuti sebuah pelatihan militer di Koninklijke Militaire Akademie yang berada di Bandung. Namun, tak sampai selesai karena Jepang menguasai Indonesia. 

Mayjen R. Suprapto kemudian ditahan dan dimasukan ke penjara. Ia pernah terlibat dalam pertempuran Ambarawa bersama Jenderal Sudirman melawan tentara Inggris. Mayjen R. Suprapto pernah ditugaskan sebagai Kepala Staf Tentara dan Teritorial (T&T) IV/ Diponegoro di Semarang dan Staf Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan. Lalu, Mayjen R. Suprapto dilantik menjadi Deputi (Wakil) Kepala Staf Angkatan Darat di Medan.

Setelah kembali ke Jakarta, Mayjen R. Suprapto diangkat menjadi perwira tinggi Angkatan Darat dengan pangkat Mayor Jenderal. Pada 1 Oktober 1965 waktu dini hari, R Suprapto dijemput oleh Pasukan Cakrabirawa dengan dalih dipanggil menghadap kepada Presiden Soekarno dan ternyata menjadi target yang dibunuh lewat G30S PKI .

3. Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono)

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore