JawaPos.com - Ditetapkannya Ibu Kota Negara (IKN) pindah dari Jakarta ke Kalimantan membuat dunia pendidikan Kota Samarinda berbenah. Salah satu yang serius diperbaiki adalah peningkatan kualitas pendidikan untuk menjawab tantangan baru yang bakal dihadapi para peserta didik di masa mendatang.
Salah satu faktor penting penunjang kesuksesan proses belajar mengajar siswa di kelas adalah adanya guru berkualitas. Guna mewujudkannya, pemerintah Kota Samarinda bergandengan tangan dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) menggelar pelatihan dan fasilitasi untuk peningkatan kompetensi profesi bagi para guru dan peningkatan kapasitas materi belajar bagi para siswa.
Melalui program Ekosistem Pendidik Profesional (EPP), PSF telah menjalankan pelatihan kepada guru-guru terpilih untuk dididik sebagai fasilitator kota di Samarinda. Ada sekitar 30 guru yang telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan selama satu tahun untuk mempraktekkan materi yang telah mereka terima di dalam kelas dalam proses belajar mengajar.
Para fasilitator tersebut kemudian nantimya akan menggulirkan ilmunya kepada ratusan guru dari tingkat PAUD, TK,SD, SMP dan SMA di wilayah Samarinda.
Rakhmad Syarif, salah satu fasilitator sekaligus guru dari Sekolah SMP 4 Samarinda mengatakan, dirinya kerap mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi guru. Namun dia mengaku pelatihan kali ini yang paling sistematis dan bisa langsung dipraktikkan dalam proses belajar mengajar siswa.
"Karena kita sudah terbiasa mengikuti pelatihan, kita awalnya menira paling pelatihannya gitu-gitu saja. Tapi ini ternyata beda," kata Rachmad Syarif ditemui di Samarinda.
Dia mengatakan pelatihan ini sejalan dengan Merdeka Belajar yang dicanangkan pemerintah. Menjadikan siswa sebagai subyek belajar, mengarahkan siswa sesuai minat, dan tidak lagi dipaksa untuk menguasai semua materi pelajaran yang dihitung dengan angka atau nilai.
"Di sini kita melihat adanya diferensiasi, anak-anak tidak dipandang sama, dan anak-anak diarahkan berkembang sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minat mereka," katanya.
Tantangan yang dihadapi dalam model pembelajaran ini adalah memetakan kemampuan dan potensi dari masing-masing siswa. Hal ini dilakukan di awal dengan cara melihat nilai para siswa sebelumnya dan meminta mereka untuk mengisi formulir terkait hobi, kesukaan, dan yang lainnya.
Rachmad mengungkapkan, menerapkan proses belajar yang menjadikan siswa sebagai subyek belajar awalnya tidak mudah. Namun seiring berjalannya waktu, dia bisa menerapkannya dengan semakin memahami kemampuan, potensi, dan minat dari setiap siswa.
"Saat pertama kali kita coba, buyar. Tantangan cooperative learning, anak-anak awalnya nggak ngerti. Tapi setelah anak tahu, mereka kangen sama kita. Mereka sampai bilang, kalau pak Syarif yang ngajar, kita siap masuk. Jadinya sekarang murid yang merindukan guru karena proses belajar di kelas menyenangkan," paparnya.