Logo JawaPos

Gambaran Layanan Kesehatan di Surabaya: Penanganan di RS Lebih Cepat, Puskesmas Sempit Direlokasi

KLINIK SORE: Sejumlah pasien antre di RSUD dr Mohamad Soewandhie Rabu (17/5). RSUD tersebut berencana membuka layanan poli sore untuk mengurangi antrean. - Image

KLINIK SORE: Sejumlah pasien antre di RSUD dr Mohamad Soewandhie Rabu (17/5). RSUD tersebut berencana membuka layanan poli sore untuk mengurangi antrean.

JawaPos.com – RSUD dr Mohamad Soewandhie menjadi jujukan sebagian warga Surabaya. Itu tergambar dari banyaknya kunjungan pasien rawat jalan. Menjelang hari libur misalnya, jumlah pasien bisa mencapai 1.600 orang. Warga berharap pemkot membenahi layanan RSUD agar lebih nyaman.

Martinah, salah seorang pasien, meminta pihak rumah sakit membuat inovasi agar pasien tidak menunggu lama saat hendak kontrol. Di beberapa poli, kata Martinah, jumlah pasien mencapai 250 orang.

”Seperti poli penyakit dalam. Setiap berobat ke sini, pasiennya bisa sampai segitu,” ucapnya Rabu (17/5).

Perempuan 58 tahun itu berharap, pemkot meningkatkan layanan RSUD. Selain itu, dia juga meminta pemkot membangun RSUD baru. Tujuannya, warga Surabaya yang hendak berobat tidak menumpuk di dua RS saja.

”Sangat butuh penambahan rumah sakit daerah,” jelasnya.

Kondisi layanan di RSUD Bhakti Dharma Husada (BDH) sudah membaik. Itu disampaikan Kasiyah. Lima bulan terakhir, warga Manukan itu rutin berkunjung ke RS di Benowo tersebut.

”Anak saya kalau antre sekarang sudah lebih cepat. Sepertinya karena sudah banyak digital,” ucapnya.

Dinda, salah seorang pengantar pasien, mengungkapkan bahwa durasi layanan lebih cepat dari perkiraan. ”Baru dua kali ke sini. Ternyata enggak lama banget seperti stereotipe orang-orang,” tuturnya.

Meski begitu, antrean tetap terjadi di depan poliklinik. Dia berharap jadwal pelayanan tidak terlalu pendek agar semua pasien bisa tertangani hari itu juga.

”Jadi bukan bolak-balik karena sudah tutup,” ujar warga asal Benowo itu.

Selain rumah sakit, puskesmas juga melayani puluhan pasien setiap hari. Namun, akses menuju puskesmas masih sering dikeluhkan warga.

Iva Tovani misalnya. Menurut dia, jalan menuju Puskesmas Wonokromo terlalu sempit. Hanya bisa dijangkau oleh pengendara roda dua. Dari segi pelayanan, antrean sudah semakin baik. Kian ramah, cepat. ”Sekarang sudah bagus meskipun tidak terlalu luas,” ujar dia.

Kabag Tata Usaha Puskesmas Wonokromo Asikin mengamini akses menuju ke puskesmas yang tidak lebar. Sayangnya, hingga kini belum ada rencana pemkot untuk memindah faskes itu.

Lahan yang minim membuat Puskesmas Wonokromo tidak bisa menggelar layanan rawat inap. Apabila ada pasien yang membutuhkan fasilitas itu, pihak puskesmas akan memberikan rujukan ke rumah sakit terdekat. ”Ambulans siaga di jalan utama andaikata ada insiden kedaruratan,” jelas Asikin.

Alternatif lain yang tengah dikaji adalah rehabilitasi Pos Kesehatan Kelurahan (Poskeskel) Wonokromo. Usulan itu pernah diajukan pada 2021 dan seharusnya terealisasi tahun lalu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore