Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Mei 2022 | 19.12 WIB

Albanese Bakal Bentuk Pemerintahan yang Semajemuk Australia

Anthony Albanese (AFP) - Image

Anthony Albanese (AFP)

JawaPos.com - Di usia 14 tahun baru Anthony Albanese diberi tahu sang ibu, Maruane Ellery, tentang ayah kandungnya, Carlo Albanese. Bahwa pria Italia itu masih hidup dan mereka berdua, Carlo serta Maruane, tidak pernah menikah.

Sebelumnya, Maruane yang berdarah Irlandia terpaksa berbohong kepada Anthony kecil untuk melindunginya dari perundungan. Pada 1960-an itu, mereka hidup bersahaja di pinggiran Sydney, Australia, di lingkungan penganut Katolik yang konservatif.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, si kecil yang dibesarkan orang tua tunggal di kompleks perumahan sederhana yang dibangun pemerintah itu kini menjadi perdana menteri (PM) terpilih Negeri Kanguru. Latar belakangnya yang "campur aduk" itu menjadi daya tarik sekaligus dianggap cocok mewakili Australia yang memang sangat majemuk.

Penghitungan suara memang belum final sampai dengan kemarin (22/5). Namun, Partai Buruh yang dipimpin Albanese sudah memperoleh kursi di atas Partai Liberal yang dipimpin sang petahana, Scott Morrison. Sehari sebelumnya, Morrison mengakui kekalahannya dan mundur dari kepemimpinan Partai Liberal. Dia juga sudah memberikan selamat kepada Albanese.

Ada 151 kursi parlemen atau majelis rendah yang diperebutkan dan 76 kursi senat. Untuk bisa memimpin dengan suara mayoritas, Partai Buruh membutuhkan 76 kursi di parlemen dan 40 kursi di senat.

Hingga kemarin, penghitungan suara sudah lebih dari 70 persen. Partai Buruh telah mengantongi 73 kursi di parlemen. Kalau toh ia tidak sampai mendapatkan 76 kursi, Partai Green dan Independen diyakini siap berkoalisi. Itu karena mereka memiliki tujuan yang sama terkait kebijakan tentang lingkungan dan perubahan iklim.

Politikus 59 tahun tersebut menjadi tokoh Partai Buruh ke-4 yang berhasil jadi PM Australia.

Ibunya keturunan Irlandia, sedangkan ayahnya berasal dari Barletta, Italia. Orang tuanya sudah berpisah sejak dia masih kecil dan mereka hidup dari uang pensiun.

Albanese baru mencari ayahnya ketika ibunya meninggal dunia pada 2002. Itu dia lakukan demi menjaga perasaan perempuan yang melahirkan dan membesarkannya. Dia akhirnya tahu sang ayah benar-benar masih hidup dan dirinya memiliki dua saudara tiri.

Albanese menyebut dirinya sebagai satu-satunya kandidat yang tidak memiliki nama keluarga anglo-celtic sejak pencalonan PM selama 1.291 tahun. Orang anglo-celtic mayoritas keturunan Inggris dan Irlandia.

Pemerintahannya nanti juga akan beragam seperti halnya penduduk Australia. Dia bakal menunjuk Senator Penny Wong sebagai menteri luar negeri. Wong memiliki ayah berdarah Malaysia-Tionghoa dan ibunya Eropa-Australia.

Australia selama ini dikritik karena perwakilan berlebihan di parlemen dari keturunan Inggris. Negeri Ratu Elizabeth II itu kini tak lagi menjadi sumber pendatang utama di negeri jiran Indonesia tersebut. Status itu kini diambil alih Tiongkok dan India. Sekitar setengah dari populasi Australia lahir di luar negeri atau memiliki orang tua di luar negeri.

Albanese adalah salah satu perdana menteri pertama dalam beberapa dekade yang memiliki latar kelas pekerja. Suami Carmel Tebbutt itu mengatakan bahwa dirinya dibesarkan untuk mencintai tiga hal sejak dia lahir. Yaitu, gereja Katolik, tim liga rugbi South Sydney Rabbitohs, dan Partai Buruh. Dia mengatakan bahwa setiap orang tua ingin agar generasi selanjutnya lebih baik, pun demikian dengan orang tuanya.

’’Ibu saya memimpikan kehidupan yang lebih baik untuk saya. Dan, saya berharap perjalanan hidup saya menginspirasi orang Australia untuk meraih mimpi mereka,’’ katanya.

Albanese baru berusia 12 tahun ketika terlibat dalam kampanye politik pertamanya. Yaitu, penolakan terhadap proposal dewan lokal untuk menaikkan harga sewa rumah. ’’Seiring saya tumbuh dewasa, saya memahami dampak yang dimiliki dan tidak dapat dimiliki oleh pemerintah dalam membuat perbedaan bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya seperti dikutip France24.

Dengan alasan itulah Albanese ingin benar-benar terjun ke dunia politik dan mengubah keadaan. Terlebih belakangan ini citra Australia kian memburuk di tangan kubu Partai Liberal. Scott Morrison dinilai membuat Australia tampil sebagai negara pembohong.

Itu terkait dengan kesepakatan pembelian kapal selam dengan Prancis yang akhirnya gagal. Dia juga meremehkan dampak perubahan iklim. Padahal, dampaknya begitu terasa di Australia, mulai dari kebakaran semak yang menjalar ke permukiman warga hingga banjir bandang.

"Ketika Anda berasal dari tempat saya berasal, salah satu keuntungan yang Anda miliki adalah Anda tidak percaya diri berlebihan. Segala sesuatu dalam hidup adalah bonus," ujar Albanese.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore