Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Maret 2022 | 18.28 WIB

Pura Mangkunegaran Tidak Boleh Terlena Kejayaan Masa Lalu

PENGUKUHAN RAJA: Upacara adat jumenengan KGPAA Mangkunegara X di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Solo, kemarin. (M. IHSAN/JAWA POS RADAR SOLO) - Image

PENGUKUHAN RAJA: Upacara adat jumenengan KGPAA Mangkunegara X di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran, Solo, kemarin. (M. IHSAN/JAWA POS RADAR SOLO)

JawaPos.com – Gusti Pangeran Hario (GPH) Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo mengajak masyarakat berpegang teguh pada prinsip bersatu dalam kebinekaan untuk menjaga warisan budaya yang adiluhung.

Itu menjadi sabda dalem perdananya setelah dinobatkan sebagai raja Mangkunegaran dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegara X kemarin (12/3).

Dilansir dari Radar Solo, pengukuhan KGPAA Mangkunegara X dilakukan dalam upacara adat jumenengan di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran. Prosesi dimulai pukul 10.00. Sebanyak 300 tamu undangan berdatangan sejak pukul 09.00. Presiden Joko Widodo turut hadir dan memberikan selamat dengan didampingi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Upacara adat jumenengan diawali penjemputan GPH Bhre yang duduk di Paringitan untuk masuk ke pendapa. Disusul dibawanya pusaka Kanjeng Kiai Ageng dan Kanjeng Kiai Wangkingan. Tak lama, Prameswari Dalem Mangkunegara IX menuju pendapa untuk membacakan kekancingan di hadapan GPH Bhre.

Isi inti dari kekancingan tersebut adalah mengukuhkan GPH Bhre sebagai KGPAA Mangkunegara X. ’’Dengan ini kami mengangkat GPH Bhre sebagai KGPAA Mangkunegara X,’’ ujar Prameswari Dalem Mangkunegara IX.

Proses selanjutnya adalah mengucapkan sumpah. Di antaranya, melaksanakan Tridharma Mangkunegaran. Setelah dikukuhkan sebagai adipati Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara X memberikan sabda perdananya.

Sang raja muda mengatakan, Pura Mangkunegaran telah melalui perjalanan sejarah yang penuh pasang surut. Yang dengan berpegang teguh pada prinsip hanebu sauyun, bersatu teguh dalam kebinekaan bak serumpun tebu yang terikat erat. ’’Pada hakikatnya, ikatan antara manusia dan kebudayaan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,” ucapnya.

Photo

Presiden Jokowi turut hadir memberikan selamat. (M. IHSAN/JAWA POS RADAR SOLO)

Kebudayaan, lanjut dia, terbentuk dari interaksi satu sama lain. Dari kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-hari. ”Kebudayaan adalah siapa kita, jati diri, dan identitas kita,” sambungnya.

Mangkunegara X menyadari bahwa Pura Mangkunegaran memiliki warisan budaya adiluhung yang tidak serta-merta dapat diturunkan secara biologis. Namun, memerlukan usaha nglampahaken sehingga dapat diwariskan untuk generasi yang akan datang. ’’Sebagaimana prinsip Tridharma yang kita anut. Bersama-sama kita memegang teguh amanah untuk menggali, melestarikan, dan mengembangkan warisan budaya tersebut beserta nilai-nilainya. Tidak hanya bagi Pura Mangkunegaran, tetapi juga masyarakat luas,” jelasnya.

Amanah tersebut tidak dapat dilaksanakan seorang diri, tetapi memerlukan keterlibatan setiap unsur masyarakat.

Menghadapi era yang semakin dinamis dan penuh tantangan, lanjut Mangkunegara X, Pura Mangkunegaran tidak boleh terlena dalam euforia kejayaan masa lampau. Warisan sejarah Pura Mangkunegaran bukan hal yang semata-mata hanya dirayakan, melainkan harus diilhami pasang dan surutnya. Dengan begitu, Pura Mangkunegaran dapat terus menjadi pelestari budaya dan sejarah yang kukuh dan tidak tergerus perkembangan zaman.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore