
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menjawab pertanyaan awak media di Kantor Dewan Pengawas (Dewas) KPK, Gedung KPK lama, Kuningan, Jakarta, Senin (17/5/2021). Novel Baswedan bersama perwakilan 75 pegawai KPK yang dinonaktifk
JawaPos.com - Akun aplikasi telegram penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan dan Direktur Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan Instansi (PJKAKI) KPK, Sujanarko diretas. Nomor kontak keduanya tiba-tiba muncul pada akun Telegram secara bersamaan, pada Kamis (20/5) malam.
Penyidik senior KPK Novel Baswedan mengakui jika akun telegramnya dibajak oleh oknum yang tak bertanggung jawab.
"Iya mas, saya (Novel Baswedan) dan pak Sujanarko," kata Novel kepada JawaPos.com, Kamis (20/5).
Senada juga disampaikan oleh Sujanarko. Pria yang karib disapa Koko ini menyampaikan, dirinya tidak mempunyai akun Telegram.
"Akun Telegram atas nama Sujanarko juga dibajak per jam 20.31 WIB. Ini bukan pak Koko yang pegang, pak Koko nggak pakai Telegram," ucap Koko.
Koko khawatir peretasan itu berdampak buruk kepada rekan-rekan lain yang tidak mengetahui, kalau dirinya tidak menggunakan akun Telegram. Karena itu dia meminta agar tidak menghubungi dirinya melalui Telegram.
"Kasih tahu teman-teman lain ya, siapa tahu disalah gunakan," imbau Koko.
Peretasan kepada kedua pegawai ini karena belakangan masif melakukan perlawanan terkait polemik 75 pegawai KPK yang tidak memenuhi syarat menjadi aparatue sipil negara (ASN). Terlebih Koko sempat mewakilkan 75 pegawai KPK melaporkan Anggota Dewan Pengawas KPK Indriyanto Seno Adji dan 5 Pimpinan KPK ke Dewan Pengawas.
Selain itu, Koko juga bersama sejumlah pegawai KPK lainnya melaporkan 5 Pimpinan lembaga antirasuah ke Ombudsman Republik Indonesia. Pelaporan itu terkait dugaan maladministrasi dalam proses tes wawasan kebangsaan (TWK).
Koko dan Novel termasuk ke dalam 75 pegawai yang tidak memenuhi syarat atau gagal menjadi ASN. Peralihan status pegawai KPK ini merupakan dampak dari berlakunya Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang KPK.
Sebelumnya, delapan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) juga mengalami peretasan. ICW memang belakangan ini giat membela 75 pegawai KPK yang gagal menjadi ASN.
Peneliti ICW, Wana Alamsyah menjelaskan, salah satu pola dugaan upaya peretasan ini dimulai saat seorang rekannya dihubungi oleh nomor tak dikenal dengan kode area telepon Amerika Serikat. Setelah itu, akun WhatsApp salah satu rekannya itu tidak lagi bisa diakses.
"Dari delapan orang ini, empat orang di antaranya WA masih teretas, masih di take over, dua di antaranya sudah dipulihkan dan dua lainnya itu percobaan," ucap Wana, Senin (17/5).a
Baca. juga: Polemik 75 Pegawai KPK Berujung Peretasan WhatsApp Peneliti ICW

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
