Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 21 April 2020 | 18.34 WIB

Kartini Muhammadiyah di Garis Depan Melawan Covid-19

Wajah Kartini - Image

Wajah Kartini

JawaPos.com - Perayaan Hari Kartini pada Selasa (21/4) tahun ini tampak berbeda. Karena pandemi Covid-19, Hari Kartini terpaksa tidak dirayakan dengan berbagai kemeriahannya yang khas seperti pemakaian pakaian tradisional dan berbagai lomba.

Wabah Covid-19 yang menimpa banyak negara di dunia memaksa semua pihak dari berbagai latar belakang merasakan dampaknya dan berjuang bersama-sama untuk melawan, tak terkecuali oleh para perempuan. Muhammadiyah, salah satu organisasi masyarakat Islam turut membantu merawat pasien Covid-19 di 67 rumah sakit yang tersebar di Tanah Air. Para dokter dan perawat wanita Muhammadiyah hari-hari ini berjuang keras memastikan para pasien Covid-19 menerima layanan yang baik.

Salah satunya, dr. Iin Inayah yang sehari-hari bertugas di RS Islam Pondok Kopi Jakarta. Dokter wanita kelahiran Majalengka 48 tahun silam tersebut sudah mengabdi sejak 2003 silam. Iin mengaku perasaannya begitu campur aduk dalam perjuangannya menangani pasien Covid-19.

"Dalam mengatasi pandemi ini, kami dihadapkan pada situasi pekerjaan yang penuh dinamika, tidak menentu, susana kerja bisa berubah sewaktu-waktu. Awalnya kami hanya bersiap dengan APD sederhana (masker bedah) kemudian membentuk tim Covid-19 hingga akhirnya rumah sakit menambah fasilitas layanan berupa pos screening dan Pos KLB (kejadian luar biasa),” kata Iin, Selasa (21/4).

Iin mencontohkan, pernah menangani pasien yang berobat ke poli spesialis paru dan sebelumnya saat diperiksa suhu tubuhnya tidak ada tanda demam serta tidak menyampaikan ada keluhan batuk. Namun, kemudian hasil pemeriksaan spesialis paru diagnosanya menunjukan pasien tersebut menyandang status Pasien Dalam Pengawasan (PDP), sehingga harus dilakukan tindakan pemantauan di ruang isolasi.

Menurutnya, pasien tersebut kemudian diarahkan dan dikirim ke ruang isolasi IGD. Situasi IGD yang semula sibuk melakukan dan menatalaksana pasien gawat darurat seketika sempat heboh dan panik.

"Sejak saat itu kami sadar bahwa virus Korona sudah ada di sekitar kami sehingga APD kami mulai dilengkapi, triase mulai diperketat, jam praktik para dokter dikurangi, akses masuk dan keluar hanya satu pintu, pos screening dipindah mendekati gerbang, serta mulai dilakukan renovasi ruangan untuk menambah kapasitas dalam menangangi kasus Covid 19,” ucap Iin.

Iin mengakui, kecemasan juga melanda para tenaga medis hingga memengaruhi sikap-sikap mereka dalam bekerja. “Tapi ibarat musuh sudah didepan mata, tak ada waktu lagi untuk mengelak selain harus terus maju melayani. Kami pun menyerahkan permasalahan mental ini ke tingkat manajemen agar mendapat perhatian husus,” tegasnya.

Untuk diketahui, Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah (RSMA) yang terlibat aktif dalam merawat pasien Covid-19 tercatat 576 dokter, 2.496 perawat dan 1.815 petugas pelaksana administrasi wanita yang menjalankan pelayanan kepada para pasien.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore