Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 18 April 2020 | 23.30 WIB

Mafindo: Infodemik atau Hoaks tentang Covid-19 Memperburuk Pandemi

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Seluruh masyarakat Indonesia saat ini tengah menghadapi tantangan penyebaran virus Covid-19. Namun, selain penyebaran virus pandemi tersebut, ada hambatan lain seperti munculnya infodemik seputar Covid-19.

Infodemik sendiri mengarah pada informasi berlebih terhadap sebuah masalah. Sehingga kemunculannya dapat mengganggu usaha pencarian solusi terhadap masalah tersebut.

Pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Harry Sufehmi mengatakan, saat ini istilah infodemik sudah mengglobal. Pasalnya, hal ini turut memperburuk situasi dan tidak menolong sama sekali.

"Kita saat ini di situasi pandemi, wabah global, bukan lokal. Infodemik tidak menolong situasi yang parah ini," ujarnya dalam video conference di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (18/4).

Di samping itu, infodemik juga dapat berakibat fatal hingga menyebabkan korban nyawa. Misalnya informasi yang tidak benar mengenai salah satu obat penangkal Covid-19.

Informasi tersebut malah membuat masyarakat justru merasa aman dengan adanya obat tersebut sehingga mengabaikan anjuran protokol kesehatan.

"Misalnya informasi mengenai obat tapi hoaks. Jadi (narasinya bilang) lengah enggak apa-apa. Kalau kena, tinggal kasi bawang putih. Padahal sebetulnya hoaks," tuturnya.

Di sisi lain, Harry juga menjelaskan bahwa sesungguhnya para ulama zaman dahulu telah menyusun hadist untuk melawan hoaks. Saat itu banyak beredar hadist palsu.

Harry merujuk anjuran para ulama, mengatakan, hadist yang soheh harus punya dasar sanad dan mata. Yaitu mengetahui asal atau sumber dan bunyi makna dan pemahaman tentang isinya.

"Dasarnya simpel untuk membantah atau mendeteksi hoaks, yaitu sanad dan matan. Sanad itu sumber, matan itu konten," ungkapnya.

"Jadi maksudnya, kita cek kalau kita dapat berita, sanadnya apa nih, sumbernya dari mana. Kalau cuma forward-an Whatsapp yang enggak jelas sumbernya sama sekali, ya kita anggap hoaks aja sampai terbukti. Jadi, aman," imbuhnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri telah mencatat infodemik berupa hoaks atau informasi yang tidak benar seputar Covid-19 di Indonesia mencapai 566 kasus. Sementara itu, hingga Jumat (17/4) pukul 22.00 WIB, Mafindo mencatat misinformasi dan disinformasi seputar Covid-19 sebanyak 301 berita.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore