alexametrics
Rusuh Asrama Papua di Surabaya

Amnesty International Sesalkan Aksi Polisi dan Ormas di Surabaya

19 Agustus 2019, 19:29:52 WIB

JawaPos.com – Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid menyesalkan tindakan polisi terhadap mahasiwa Papua saat peristiwa pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jumat (16/8). Selain polisi, ada sejumlah organisasi massa (ormas) ikut juga mengepung dalam peristiwa tersebut.

Menurutnya, peristiwa itu dinilai sebagai pemicu aksi unjuk rasa yang berujung kericuhan di Manokwari dan Jayapura, Senin (19/8). Bahkan massa juga melakukam pembakaran gedung DPRD Papua Barat.
“Ini adalah sinyal rendahnya penghormatan terhadap hak asasi manusia Papua sekaligus sinyal memburuknya situasi HAM Papua,” kata Usman melalui keterangan tertulisnya, Senin (19/8).

Kejadian di Surabaya, lanjut Usman, memperlihatkan bagaimana aparat negara dan kelompok non-negara bisa bersama-sama melakukan tindakan-tindakan represif dan diskriminatif yang bernuansa kebencian rasial.

Usman menilai, seharusnya kepolisian mencegah tindakan persekusi yang dilakukan oleh massa dan menindak tegas pelaku. Namun, aparat justru ikut mengepung asrama dan melakukan penggunaan kekuatan yang berlebihan dengan menembakkan gas air mata, mendobrak pintu gerbang asrama dan melakukan penangkapan sewenang-wenang.
“Inilah yang kemudian mendorong lahirnya protes dan kemarahan orang Papua di Manokwari dan juga wilayah lainnya,” ujar Usman.

Menurut Usman, tindakan aparat di asrama mahasiswa Papua, Surabaya, patut diduga melanggar Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. Mengingat mahasiswa dalam asrama tidak melakukan aksi perlawanan atau menyerang aparat yang membahayakan jiwa petugas atau orang lain.

Tindakan kekerasan dan kebencian rasial terhadap orang-orang Papua, kata Usman, dapat berkontribusi pada eskalasi lingkaran kekerasan, termasuk terhadap aparat keamanan sendiri maupun warga yang lainnya di Papua.

“Tindakan hukum terhadap pelaku penghinaan rasial dan aparat yang melakukan tindakan sewenang-wenang kepada mahasiswa Papua di Surabaya penting untuk memastikan insiden tersebut tidak digunakan sebagai dalih untuk melakukan aksi kekerasan di tempat lain,” pungkasnya.

 

Editor : Dimas Ryandi

Reporter : Muhammad Ridwan



Close Ads