
Tim SAR gabungan mengevakuasi turbin pesawat Lion Air JT 610 yang ditemukan di dasar laut perairan Karawang, Jabar.
JawaPos.com - Harapan untuk menemukan badan pesawat Lion Air JT 610 tampaknya sia-sia. Sebab, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kemarin memastikan bahwa pesawat yang jatuh di perairan Karawang itu telah hancur berkeping-keping.
Kepastian itu didapat setelah tim evakuasi terjun langsung ke lokasi jatuhnya pesawat tersebut.
Yang mereka temukan hanya puing dan serpihan badan pesawat. Bahkan, mesin pesawat pun tidak lagi utuh.
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, mesin pesawat dipastikan tidak meledak. Mesin tersebut hancur saat pesawat menghunjam masuk ke air dengan kecepatan sangat tinggi.
Sebelum lost contact, pesawat tersebut diketahui terbang di ketinggian 5 ribu kaki dengan kecepatan tinggi, yakni 345 knot atau sekitar 639 km/jam. Kecepatan tersebut diperkirakan bertambah saat pesawat menukik tak terkendali hingga menghujam masuk ke air. Meski demikian, kepastian tentang kecepatan pesawat saat jatuh menunggu hasil penyelidikan KNKT.
"Istilahnya tadi (mesin yang tersisa, Red) itu kan seperti bonggolnya jagung. Jagungnya sudah dipipil, sudah hilang semua," ujar Soerjanto di dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) II kemarin.
Dia bersama dua petugas lain melihat kondisi mesin pesawat. Dalam penelitian kecelakaan pesawat itu, KNKT memang dibantu perwakilan teknisi dari Boeing dan KNKT Amerika Serikat. Mereka memeriksa kondisi mesin yang sudah tidak utuh itu sebelum dimasukkan ke truk yang akan menuju kantor KNKT.
Selain mesin, hancurnya bodi pesawat itu juga terlihat dari bagian yang bisa diangkat ke dermaga tersebut. Menurut Soerjanto, bagian pesawat yang sudah seperti terkoyak tersebut adalah tempat bahan bakar pesawat. "Itu yang ada ijo-nya itu paling tebal. Itu bagian yang paling kuat saja sudah pecah. Itu bagian tangki tengah sayap. Yang kuat saja seperti itu," ungkap dia.
Memang, hingga kemarin tim SAR gabungan hanya menemukan puing-puing. Padahal, radius evakuasi menggunakan ROV sudah mencapai 250 meter. Namun, tidak juga ditemukan badan pesawat yang lebih besar. "Radius kalau 250 meter itu sudah cukup. Karena kita keluarkan sedikit (radius pencariannya, Red) sudah tidak ada barang (temuan). Lebih kecil-kecil lagi. Jadi, wasting time. Kita memanfaatkan waktu dan personel yang ada," kata Kepala Basarnas Marsekal Madya M. Syaugi.
Hingga evakuasi hari keenam kemarin, pencarian dan penyelaman yang dilakukan hanya berhasil mengangkat sepasang roda pendaratan (main landing gear) kedua. Roda pendaratan yang hancur tersebut dinaikkan dengan balon pelampung, lantas diangkat dengan crane milik kapal Baruna Jaya I. Belum ada pengangkatan badan pesawat seperti yang direncanakan.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
