Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 September 2018 | 23.03 WIB

Belajar dari Insiden KMP Sinar Bangun, Kini Penumpang Wajib Tulis Nama

Kapal bersandar di dermaga Danau Toba, Sumatera Utara. - Image

Kapal bersandar di dermaga Danau Toba, Sumatera Utara.

JawaPos.com - Tragedi tenggelamnya KMP Sinar Bangun di Danau Toba 18 Juni lalu masih menyisakan luka. Masyarakat setempat kasus serupa terulang lagi. Apalagi ketika tragedi itu 164 penumpang yang belum ditemukan. Nama-nama mereka masih tertempel di dinding kantor Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pemerintah dan masyarakat setempat tak ingin luka itu bertambah. Perbaikan pun dilakukan.


Itulah yang dirasakan Jawa Pos di Pelabuhan Simanindo, Kabupaten Samosir, Rabu lalu (12/9). Pun demikian ketika Jawa Pos naik KM Simanindo yang mengantarkan pendudukan Samosir ke Tigaras atau sebaliknya.


"Saya baru kali ini dipakaikan jaket (baju pelampung, Red)," kata Anton Siregar. Setelah kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun, Anton tak pernah lagi naik kapal. Rabu itu untuk kali pertama dia menyeberang dengan kapal lagi. Anton pun sedikit terkejut begitu dipakaikan baju pelampung. Sebelum-sebelumnya, menurut cerita Anton, penumpang tidak pernah diwajibkan memakai baju pelampung.


Pemakaian baju pelampung itu ternyata bukan satu-satunya perubahan. Ada beberapa perbaikan lainnya. Perubahan lain yang dirasakan pria yang tinggal di Pematangsiantar itu adalah harus menulis nama, alamat, dan umur. "Juga, menuliskan jenis kelamin sebelum naik kapal," ujarnya.


Jawa Pos pun melakukannya sebelum naik kapal. Sebelumnya, menurut Anton, penumpang cukup bilang kepada anak buah kapal (ABK). Ketika dibolehkan, penumpang langsung naik. Urusan biaya jalan akan diselesaikan di atas kapal.


Perjalanan ke Pelabuhan Tigaras dari Pelabuhan Simanindo hanya 30 menit. Angin cukup kencang ketika Jawa Pos menyeberang. Di tengah perjalanan, gerimis mulai turun. Di kanan kiri KM Simanindo muncul gelombang yang cukup tinggi. "Tenang. Ini masih aman. Dua hari lalu saya jalan dan seperti diayun-ayun," ungkap anggota Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah 2 Sumatera Utara Kaharudin Siregar.


Keberadaan Kaharudin menjadi pertanda lain perubahan yang terjadi. Selepas tenggelamnya KMP Sinar Bangun, ditempatkan seorang petugas di semua perjalanan kapal di Danau Toba untuk pengawasan. Penyeberangan sungai dan danau memang di berada bawah kewenangan Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Petugas keselamatan pelayaran Pos Pelabuhan Tomok dari Dinas Perhubungan Kabupaten Samosir Ridwan Manalu menegaskan, pengawasan saat ini memang diperketat.


Di Pulau Samosir ada 34 pelabuhan. Transportasi danau menjadi pilihan utama masyarakat di sana. Ridwan menjadi salah seorang pengawas utama di 34 pelabuhan tersebut. "Kalau dibilang kurang orang, ya betul," ungkapnya. Karena itu, kalau dibilang maksimal, pengawasan belum benar-benar maksimal. "Tapi, kami berusaha semaksimal mungkin. Kami tidak ingin kejadian lalu terulang," ujarnya. Ridwan mengaku beruntung lantaran banyak masyarakat yang membantu. Demikian halnya dengan awak kapal.


Semua sekarang ketika diberi pengarahan tidak sekadar mau mendengarkan. Tapi, juga menjalankannya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore