Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 17 September 2018 | 17.49 WIB

Kapal Barang Disulap Jadi Angkutan Penumpang

EVAKUASI KORBAN: Tim SAR menurunkan korban dari KN SAR Pacitan di dermaga Pelabuhan Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Sabtu (15/9). - Image

EVAKUASI KORBAN: Tim SAR menurunkan korban dari KN SAR Pacitan di dermaga Pelabuhan Banggai Laut, Sulawesi Tengah, Sabtu (15/9).

JawaPos.com - Sepanjang 2018 transportasi perairan kerap diwarnai dengan kejadian kecelakaan kapal. Setiap kejadian selalu ada korban meninggal dan penumpang hilang. Kejadian yang terus berulang itu sepertinya tidak mengubah kondisi manajemen bisnis dan keselamatan pelayaran.


Diketahui, kapal menjadi alat transportasi utama di sebagian besar wilayah Indonesia. Terutama di wilayah kepulauan. Hal yang wajar. Apalagi sekitar 70 persen wilayah Indonesia merupakan perairan. Meski menjadi pilihan utama, standar keamanan sering kali diabaikan.


Padahal, akibatnya sangat fatal: kematian.


Evakuasi korban kecelakaan kapal itu paling sulit. Pertolongannya juga pasti lambat. Sebab, kecelakaannya jauh dari jangkauan. Korban tewas pun acap kali puluhan orang.


Standar keamanan yang diabaikan itu terasa sekali ketika Jawa Pos melakukan perjalanan laut di Sulawesi Selatan Senin lalu (10/9). Saat itu, Jawa Pos menyeberang dari Pelabuhan Bira, Bulukumba, menuju Pelabuhan Pamatata, Kepulauan Selayar, pada pagi. Sorenya melakukan perjalanan sebaliknya. Di jalur tersebut, di perairan Selayar, sebelumnya KM Lestari Maju kandas. Peristiwa 3 Juli 2018 itu menelan korban tewas 34 jiwa.


Setelah kandasnya KM Lestari Maju, penyeberangan dilayani dua kapal. Yakni, KM Kormomolin dan KM Bontoharu. Namun, saat ini yang beroperasi hanya KM Kormomolin. Kapal buatan 1999 itu berkapasitas 262 penumpang dan 22 unit kendaraan berbagai jenis. Kapal jenis tersebut terbagi menjadi tiga dek. Bawah untuk kendaraan dan barang. Tengah untuk penumpang. Paling atas untuk kru kapal.


Pelayanan yang tidak sesuai prosedur terjadi sejak pembelian tiket. Penumpang ditarik Rp 25.000 di Pelabuhan Bira. Ada selisih seribu rupiah dengan harga di tiket. Meski tahu, para penumpang cuek. Tidak komplain. Mereka maklum saja soal hal tersebut. Seolah itu hal umum dan sudah berlangsung lama. "Mungkin nggak ada kembaliannya," jawab enteng seorang penumpang ketika Jawa Pos menanyakan selisih harga tiket tersebut.


Hal melenceng juga terjadi saat pembelian tiket rombongan. Tak perlu beli satu per satu. Bisa beli borongan. Identitas bisa asal tulis. Tinggal tulis nama penumpang dan umur di kertas. Kertasnya apa pun. Bekas pun diterima. Kemudian, data itu disetorkan kepada petugas. Tidak perlu menunjukkan identitas masing-masing penumpang. Apalagi menghitung jumlahnya. Petugas percaya saja kepada si pembeli.


Di Pelabuhan Bira, pengecekan tiket agak ketat. Petugas meminta setiap penumpang membawa satu tiket. Tapi, sebatas itu. Identitas yang berbeda tak menjadi soal. Yang penting pegang tiket. Pemandangan berbeda terjadi di Pelabuhan Pamatata. Tidak ada pengecekan tiket saat masuk. Bahkan, tanpa tiket bisa masuk. Bebas.


Kelonggaran juga berlaku untuk kendaraan muatan barang. Tidak ada proses timbangan. Di Pelabuhan Bira ada fasilitas itu, tapi mangkrak. Berubah jadi tempat parkir sambil menunggu masuk kapal. Sementara itu, di Pelabuhan Pamatata tidak ada timbangan. "Langsung beli tiket, nanti petugas yang menghitung beratnya. Tidak perlu nimbang," ujar Fauzan, salah seorang sopir truk.


Ketika sudah berada di kapal, pengaman kendaraan hanya mengandalkan rem tangan. "Semua kendaraan wajib dipasangi tali lasing," kata Manajer Operasional dan Teknik PT ASDP Indonesian Ferry Pelabuhan Bira Supriadi. Tapi, fakta berbicara lain. Hanya kendaraan tertentu yang diikat tali pengaman. Misalnya, truk fuso.


Di luar problem itu, jaket keselamatan tak sesuai jumlah penumpang. Terdapat 185 buah jaket untuk dewasa. Sebanyak 16 jaket untuk anak-anak. Padahal, Senin itu penumpang anak-anak lebih dari 20 orang. Jumlah APAR pun setali tiga uang. Di tempat penumpang hanya ada dua unit. Di tempat kendaraan cuma ada satu unit. Itu pun penempatannya sulit dijangkau. Terjepit kendaraan yang parkir.


Syahbandar Pelabuhan Bira tidak memungkiri bahwa ASDP sering kali tidak patuh aturan. "Beberapa kali menemukan praktik pelanggaran. Seperti penjualan tiket yang melebihi kuota," ungkap Kepala Wilayah Syahbandar Bulukumba Umar Rahman.


Pemandangan miris juga tampak di pelayaran Bulukumba (Sulawesi Selatan) ke Kendari (Sulawesi Tenggara). Kapal berangkat dari Pelabuhan Leppe'e, Ujung Bulu, Bulukumba. Bukan kapal khusus penumpang yang digunakan. Melainkan kapal barang. Lengkap dengan katrol di bagian depan. Namanya KM Satria Nusantara.


Di bagian tengah kapal itu ada geladak. Tempat barang. Tempat tersebut diubah menjadi tempat penumpang. Geladak yang berukuran sepertiga panjang kapal itu dipasangi tenda dengan rangka besi. Penutupnya terpal plastik biru. Dibentuk seperti atap rumah. Persis tenda darurat. Di dalam tenda, orang-orang lesehan. Kalau ingin empuk, bisa sewa kasur. Biayanya Rp 25 ribu sekali jalan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore