
Ilustrasi
JawaPos.com - Anggaran Pilpres 2019 mendatang diprediksi bakal membengkak. Itu lantaran pemerintah berencana menanggung biaya saksi parpol dan capres di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Estimasi DPR, jumlah dana tambahan yang kudu digelontorkan mencapai Rp 1,5 triliun.
Kewajiban negara untuk membayar saksi parpol dan capres ini tengah digodok dalam Pansus RUU Pemilu DPR. Masyoritas fraksi di DPR sudah satu suara mengenai hal ini. Kini, tinggal persetujuan Pemerintah untuk menggolkannya.
Ketua Pansus RUU Pemilu Lukman Edy menyebut, pembayaran saksi oleh negara akan membantu meningkatkan kualitas Pemilu.
"Ini dapat mencegah terjadinya politik uang,” ucap politisi senior PKB ini, dalam perbincangan dengan redaksi, Selasa malam (2/5).
Menurut Edy, selama ini parpol dan capres peserta Pemilu sangat terbebani dalam membayar saksi tersebut. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Satu kali Pemilu dibutuhkan 600 ribu saksi untuk ditempatkan di tiap TPS.
"Kalau partai mungkin tidak terlalu ada masalah, karena berjenjang. Dia punya calon anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabapaten/Kota. Mobilisasi banyak untuk membiayai saksi. Yang berat calon presidennya. Sebab, selama ini partai meminta kepada capres untuk biayai saksi-saksi. Jadi, ini antisipasi politik uang juga, antisipasi laporan keuangan capres yang tidak benar,” terangnya.
Menurut Edy, urusan saksi ini menjadi salah satu hal krusial yang dibahas dalam RUU Pemilu. Sebab, selama ini, keuangan partai terkuras karena harus membayar saksi. Sementara, dalam ketentuan pembiayaan dana kampanye nanti, akan dilakukan pengetatan.
Kata Edy, DPR tidak menginginkan ada capres yang bermasalah karena kesulitan dana kampanye. Tidak hanya itu, pihaknya juga tidak ingin ada capres yang bermasalah karena terindikasi laporan dana kampanye yang tidak beres akibat urusan sanski. Sebab, hal itu sangat fatal dan bisa berujung diskualifikasi calon.
"Kasus seperti ini sudah terjadi di Brasil. Ketika ada dana kampanye tidak bisa dilaporkan oleh calon, dia diskualifikasi, diturunkan di tengah jalan karena sumber dana kampanye tidak jelas. Ini harus diantisipasi,” ucapnya.
Dari hitung-hitungan yang dilakukan Pansus RUU Pemilu, kebutuhan dana untuk saksi itu mencapai Rp 1,5 triliun. Bagi Edy, dana ini terbilang kecil untuk menjamin terjadinya Pemilu bersih dan jujur.
Edy belum bisa memastikan usulan pembiayaan saksi oleh negara itu akan gol. Hal tersebut masih tergantung dari sikap Pemerintah.
Pihaknya pun terus memcoba membujuk Pemerintah, bahwa wacana tersebut muncul karena ada keinginan besar dari partai agar Pemilu berlangsung jujur dan adil.(sam/rmol/mam/JPG)

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
