alexametrics

Cegah Kekerasan Terhadap Anak, YAMSA Gelar Baksos di Rusun Pesakih

15 Februari 2020, 16:29:33 WIB

JawaPos.com – Maraknya kasus perundungan dan kekerasan kepada anak mengundang perhatian banyak pihak. Kondisi ini dianggap tidak ideal untuk tumbuh kembang anak. Tak sedikit, anak-anak yang mengalami kekerasan berujung pada depresi.

Kondisi ini yang memancing Yayasan Abang Mpok Sahabat Anak (YAMSA) terus berupaya mengkampanyekan anti kekerasan terhadap anak. YAMSA pun secara rutin turun ke tengah-tengah masyarakat untuk memberi edukasi agar kekerasan kepada anak tidak terjadi.

Hari ini, Sabtu (15/2), YAMSA menggelar kegiatan edukasi di Rumah Susun (Rusun) Pesakih, Semanan, Jakarta Barat. Diikuti oleh puluhan anak penghuni rusun, YAMYA menghadirkan sejumlah narasumber kompeten untuk membangun kesadaran terhadap hak anak.

“Intinya adalah upaya untuk menyadarkan masyarakat bahwa anak-anak jangan sampai dilupakan, anak-anak mendapat perhatian terutama dengan berbagai kasus yang merebak sealama ini,” kata Pembina YAMSA, Seto Mulyadi.

Pria yang akrab disapa Kak Seto itu menuturkan, angka kekerasan terhadap anak masih cukup tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, upaya pencegahan penting sekali untuk dilakukan supaya mata rantai kekerasan ini bisa diputus.

Dia menilai upaya pencegahan kekerasan terhadap anak harus dilakukan dari lingkungan terdekat. Bisa berupa pembentukan Seksi Perlindungan Anak RT/RW (Spartan). Sebab, berdasarkan pengalaman pelaku kekerasan terhadap anak mayoritas adalah orang-orang terdekat. “Dengan adanya seksi perlindungan anak di RT/RW bisa menjadi langkah preventif,” jelasnya.

Spartan ini, lanjut Kak Seto, bisa juga sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam pemenuhan hak terhadap anak. Terutama dalam aspek keselamatan, tidak mendapat kekerasan baik dari keluarga maupun dari teman sepergaulan dan hak-hak lainnya.

Hari ini sejumlah kegiatan menarik diberikan kepada anak-anak rusun. Seperti pemeriksaan jantung kepada anak, mengembangkan kreatifitas anak dengan cara belajar menyablon baju.

“Kadang-kadang sistem pendidikan kita kurang berpihak pada kreativitas anak. Mereka hanya dituntut menghafal, dituntut memberikan satu-satunya jawaban yang benar tapi tidak diarahkan, dirangsang mempunyai ide-ide kreatif,” imbuhnya.

Adanya kegiatan semacam ini, membuat kreatifitas anak dan kepercayaan diri anak meningkat. Seiring dengan itu, perundungan dan kekerasan bisa ditekan. Selanjutnya anak-anak juga diberi pemahaman dampak negatif dari perundungan.

Aspek ini menjadi catatan sendiri bagi YAMSA karena angka kejadiannya masih tinggi. Berdasarkan riset yang dilakukan, untuk di Jawa Barat saja, perundungan terjadi pada 60-70 persen Sekolah Dasar (SD). Angka itu belum termasuk untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Suatu kekerasaan yang mungkin dianggap biasa oleh beberapa kalangan, tapi ini membuat anak menjadi tidak bisa mengembangkan potensinya. Jadi tidak senang belajar, jadi menjadi pelaku-pelaku bullying pada masa yang akan datang,” ucap Kak Seto.

Menurut pendiri komunitas anti bullying Sudah Dong, Katyana Wardhana mengatakan, dalam memberikan edukasi pencegahan perundungan harus dilakukan komprehensif. Tidak hanya menggandeng anak-anak itu sendiri, melainkan harus diukung oleh orang tua, guru, dan lingkungan tempat tinggal.

“Anak-anak yang mengalami bullying bisa tentunya mengalami depresi, dan itu harus diatasi,” ungkap Katyana. Atas dasar itu, Sudah Dong berkomitmen akan terus vokal mengkampanyekan anti bullying kepada anak. Karena dampaknya akam sangat membahayakan masa depan anak.

Editor : Banu Adikara

Reporter : Sabik Aji Taufan

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads