Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 November 2018 | 16.07 WIB

Kasman, Anak Carik Desa Pelobi Hapusnya 7 Kata di Piagam Jakarta

TANDA JASA: Dewi Nurul Mustaqim, Ahli Waris Tokoh dari Provinsi Jawa Tengah  Alm. Tn Kasman Singodimedjo menerima gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11). - Image

TANDA JASA: Dewi Nurul Mustaqim, Ahli Waris Tokoh dari Provinsi Jawa Tengah Alm. Tn Kasman Singodimedjo menerima gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (8/11).

JawaPos.com -  Presiden Joko Widodo telah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada enam tokoh yang tersebar di berbagai wilayah, Kamis (8/11). Satu dari enam pahlawan 'baru' itu adalah Kasman Singodimedjo.


Sejauh ini, banyak yang bertanya-tanya mengenai sosok Kasman ini. Khususnya soal siapa sebenarnya tokoh yang disebut sebagai pahlawan penjaga keberagaman dalam kesatuan ini.


Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Wasino, menilai bahwa sudah sepantasnya pemerintah pusat mengangkat tokoh asli Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini sebagai salah satu pahlawan nasional. Lahir pada tanggal 25 Februari 1904, Wasino menganggap Kasman mempunyai segunung kontribusi serta peran penting pada masa pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia.


"Sampai saat ini saya kira sejarah itu menunjukkan Kasman layak menjadi pahlawan. Yang jauh lebih penting, bagaimana dia dipandang sebagai tokoh yang toleran dan memersatukan bangsa ketika orang berdebat tentang Piagam Jakarta yang jadi Pancasila kini," ujarnya saat dijumpai di kediamannya, Semarang, Kamis (8/11).


Kasman merupakan salah satu tokoh perumus Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dimana pada saat itu, ia tergabung dalam anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tambahan Agustus 1945 sebelum masa kemerdekaan.


Lalu, apa yang Kasman lakukan sehingga tak cuma Wasino, bahkan banyak pihak menyebutnya sebagai sosok toleran? "Ia memiliki peran dalam penghilangan tujuh kata. Yang bisa saja memecah belah umat atau bangsa dalam naskah pembukaan UUD 1945 saat dirumuskan Panitia Sembilan yang berada dalam PPKI," ujar Wasino.


"Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya," itulah bunyi tujuh kata tersebut. Kata-kata itu hendak dipakai dalam Piagam Jakarta yang akan menjadi Pembukaan UUD 1945.


Alexander Andries Maramis, salah seorang anggota dari Panitia Sembilan perwakilan kawasan Indonesia Timur berat hati akan penggunaan butir kalimat tersebut. Lantaran, banyak pula di wilayah Tanah Air bagian timur yang non-muslim. Dan ialah Mohammad Hatta yang menjadi menjembatani usulan A.A. Maramis dengan tokoh-tokoh Islam anggota PPKI agar mengganti ketujuh kata tersebut demi keutuhan bangsa.


Jembatan itu pastinya tak akan cukup panjang tanpa keberadaan seorang Kasman Singodimedjo. Ia yang eksis sebagai golongan Islam dalam keanggotaan PPKI, memilih tak keras kepala dan kemudian melobi penggantian soal tujuh kata tadi ke rekan-rekan sesama golongannya. Salah satu yang paling sering disebut, yakni Ki Bagoes Hadikoesoemo. Yang dikenal sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah saat itu.


"Ia menginisasi penggodokan kata Dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya itu tadi menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan kemudian ditandatangni Ir. Soekarno. Di sini Kasman sangat berperan, dia memikirkan negara majemuk kita," tegasnya.


Itu satu momen heroik Kasman yang menurut Wasino tetap hidup menjadi inspirasi situasi perpolitikan masa kini. Akan tetapi, namanya bisa saja tidak tercantum dalam banyak buku pelajaran sejarah manakala Kasman bukan orang yang berkiprah di mana-mana sampai ia dikenal sebagai ahli hukum hingga akhir hayatnya.


"Kasman itu kan tadinya sekolah di Stovia tapi tidak selesai. Kemudian bergeser ke sekolah hukum di Jakarta juga. Karena itu dia dikenal sebagai ahli hukum ketimbang Stovianya itu. Karena dia memang lulusnya di sana bareng Moh. Yamin dan teman-temannya. Dia Meester in de Rechten (disingkat 'Mr.')," terangnya.


Jejak perjuangan pergerakan nasional Kasman, sebenarnya sudah semenjak ia berada di Stovia. Kasman muda memulai pengalaman berorganisasinya dengan bergabung dalam Jong Java. Kemudian beralih ke Jong Islamieten Bond. Ia sempat menjadi peserta pula pada Kongres Pemuda II tahun 1928.


"Dia lahir di Purworejo tapi orangtuanya pindah ke Lampung. Kalau sekarang diaspora, migrasi. Jadi walaupun keluarga Singodimedjo, nama Jawa itu. Kasman-nya itu mungkin berbau Islam, tapi bapaknya Singodimedjo, seorang carik desa. Jadi di sini ada semacam sinergi budaya Jawa dan luar Jawa, yang membentuk karakter Kasman. Dia Muslim yang taat, maka membentuk Jong Islamieten Bond dan bersama Jong-jong lainnya jadi pionir perhimpunan pemuda Indonesia yang kongres tahun 1926 dan 1928," terangnya panjang.


Kombinasi dua latar belakang inilah, yakni terdidik secara barat di Stovia dan hidup bersosialisasi dalam keorganisasian muslim yang menjadikan Kasman berwawasan kebangsaan luas. Dia memiliki konsep berpikiran ala modern state dan Islamic state. Besar kemungkinan, faktor inilah yang menggugah Kasman untuk mau membantu menghapus tujuh kata berpotensi memunculkan disintegrasi tadi.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore