
JAGA JARAK LAGI: Jemaah umrah melaksanakan salat di Masjidilharam dengan saf renggang. Otoritas Saudi memberlakukan kembali social distancing setelah kasus Covid-19 di sana melonjak. (AFP)
JawaPos.com – Pemerintah Arab Saudi sampai saat ini berupaya mewujudkan program Vision 2030. Salah satunya adalah mencatatkan kunjungan warga negara asing, termasuk umrah sebanyak-banyaknya. Dari Indonesia saja, ditargetkan sebanyak 15 juta jemaah tiap tahunnya.
Informasi tersebut disampaikan Ketua Umum Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bersathu) Wawan Suhada. Dia mengatakan untuk mewujudkan program Vision 2030 itu, pemerintah Saudi tentu sudah menyiapkan sejumlah strategis. ’’Termasuk menjadikan perjalanan umrah seperti perjalanan pariwisata biasanya,’’ katanya Selasa (8/11).
Dia menjelaskan untuk saat ini, penyelenggaraan umrah di Saudi diatur oleh Kementerian Urusan Haji dan Umrah. Kementerian ini bermitra dengan Kementerian Agama (Kemenag) Indonesia. Wawan mengatakan tidak menutup kemungkinan penyelenggaraan umrah nantinya menjadi domain Kementerian Pariwisata Arab Saudi.
’’Jika nanti umrah menjadi kewenangan Kementerian Pariwisata Arab Saudi, maka hubungannya bukan dengan Kemenag. Tetapi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,’’ jelasnya. Wawan menegaskan cepat atau lambat, bakal terjadi perombakan yang signifikan dalam tata kelola umrah oleh pemerintah Saudi.
Baginya perombakan tersebut sebuah keniscayaan. Travel atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU), bahkan pemerintah Indonesia tidak bisa mengintervensi terlalu dalam. Sebagai gantinya travel umrah harus mulai bersiap melakukan mitigasi, supaya tetap bisa bertahan hidup.
Wawan mengatakan ketika nanti umrah diperlakukan sebagai perjalanan pariwisata biasa, maka biro perjalanan wisata (BPW) atau travel agen pariwisata bisa menjual paket umrah. Mereka cukup menjalin kerjasama dengan mitra di Arab Saudi, sudah bisa memberangkatkan jemaah umrah dari Indonesia.
’’Kawan-kawan PPIU mulai memikirkan diversifikasi layanan kepada masyarakat,’’ tuturnya. Tidak bisa menggantungkan usahanya hanya pada perjalanan ibadah umrah saja. Wawan mengatakan sampai saat ini skema penyelenggaraan umrah masih bersifat B to B yaitu pelaku usaha di Arab Saudi dengan di Indonesia.
Tidak menutup kemungkinan ke depan skema penyelenggaraan umrah bersifat B to C atau travel umrah dari Saudi langsung menjual paket ke masyarakat di Indonesia. Wawan berharap pemerintah Indonesia tetap memperjuangkan bahwa umrah tidak sekadar perjalanan wisata. Tetapi di dalamnya ada kegiatan ibadah yang memerlukan adanya unsur bimbingan dan perlindungan. Apalagi kondisi sosial budaya jemaah umrah sangat beragam. Termasuk dengan aspek ilmu atau manasiknya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
