Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 7 November 2018 | 17.12 WIB

Wapres Pertimbangkan Pembentukan Mahkamah Penerbangan

Keluarga korban bersama pramugari serta pilot Lion Air mengikuti doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan KRI Banjarmasin di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11) - Image

Keluarga korban bersama pramugari serta pilot Lion Air mengikuti doa bersama dan tabur bunga di lokasi jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 dengan KRI Banjarmasin di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Selasa (6/11)

JawaPos.com - Pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP diperkirakan sudah mengalami gangguan instrumen dalam empat penerbangan sebelumnya. Itu merupakan temuan awal dalam penyelidikan KNKT.


Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengungkapkan, pihaknya sudah berhasil mengunduh semua flight data recorder (FDR). Dia menyatakan, kondisi data bagus. Ada 69 jam data penerbangan yang direkam.


"Enam puluh sembilan jam itu terangkum dalam 19 flight, dari data yang kita unduh itu, kita mengacu pada 1.790 parameter," jelasnya.


Dari 1.790 parameter tersebut, data yang ditemukan cocok dengan data yang ditunjukkan radar. Artinya, data yang direkam dalam kondisi bagus. Selain data dari FDR, kata Soerjanto, pihaknya perlu mengambil data dari non-volatile memory (NVM) yang tersimpan di komponen-komponen dalam pesawat. Data NVM tersebut bisa membantu menguak misteri penyebab jatuhnya Lion Air PK-LQP.


Dia mengungkapkan, tidak semua data terekam di FDR. Beberapa informasi tertinggal di dalam komponennya. "Tapi, tentu saja NVM ini tidak didesain untuk tahan saat terendam di laut," jelasnya.


Karena keterbatasan waktu dan kekuatan personel, dalam waktu dekat KNKT membuat daftar komponen yang harus diprioritaskan untuk dicari dan diangkat. "KNKT akan bikin list, tim dari Amerika bikin list. Mungkin nanti kami minta saran tim dari Australia, Singapura, atau Arab Saudi. Mungkin mereka punya pengalaman," katanya.


Sayang, yang bisa menganalisis NVM hanyalah produsen komponen itu sendiri. Karena itu, kata Soerjanto, mau tidak mau komponen tersebut harus dibawa ke pabrik produsennya.


Temuan awal menunjukkan, memang terdapat masalah pada airspeed indicator pada instrumen di kokpit. "Airspeed-nya unreliable. Jadi, terjadi perbedaan antara kiri dan kanan (sisi kapten dan sisi first officer, Red)," katanya. Masalah tersebut terekam pada empat penerbangan terakhir, termasuk penerbangan nahas Senin (29/10) itu.


Soerjanto menyatakan, KNKT telah menanyai produsen komponen, teknisi, serta pilot-pilot yang sebelumnya menerbangkan PK-LQP untuk menggali data serta mencari tahu penyebabnya. "Tapi, itu satu item saja. Terlalu jauh kalau mau menarik kesimpulan dari itu saja," ujarnya.


Dia memperkirakan, verifikasi data FDR yang telah diunduh akan memakan waktu 1-2 minggu. Sementara itu, analisisnya bisa memakan waktu 3-4 bulan, bergantung kompleksitas masalah.


Saat ditanya apakah pihak Lion Air lalai dan membiarkan pesawat bermasalah, Sorjanto menegaskan bahwa tidak ada istilah pembiaran. Setiap keluhan pilot yang dicatatkan di log book akan diperbaiki teknisi. "Nggak ada pembiaran. Yang ada, perbaikan itu efektif atau tidak. Kalau tidak, pilot pasti tidak mau terbang," tegasnya. Karena itulah, KNKT mulai kemarin mewawancara kru dan para teknisi yang menangani PK-LQP.


Sampai saat ini, CVR belum ditemukan. Soerjanto menyatakan, jika CVR ditemukan, gambaran situasi saat kecelakaan terjadi akan lebih baik. Penyelidik bisa tahu diskusi apa yang terjadi antara kedua pilot.


Selain percakapan, penting juga untuk diketahui suara alarm (warning) apa saja yang berbunyi menjelang kecelakaan. Seharusnya, kata Soerjanto, jika pesawat mendekati permukaan tanah atau kurang dari ketinggian 1.000 kaki, ada peringatan dari ground proximity warning system (GPWS). "Karena mood-nya saat itu kan take off, bukan landing. Jadi, jika mendekati tanah kurang dari 1.000 kaki, GPWS akan memberikan warning," jelasnya.


Kepala Basarnas Muhammad Syaugi menuturkan, hingga kemarin, CVR belum ditemukan. Tim evakuasi sudah tidak mendengar suara ping dari lokasi yang diperkirakan sebelumnya.


Meski demikian, dia menegaskan, pihaknya tetap menyelam di lokasi tersebut. Di lokasi perkiraan keberadaan CVR, kondisinya berlumpur dengan kedalaman pasir lebih dari 1 meter. "Kalau kami tusuk pakai besi, itu dalam sekali. Tapi, kami tetap berusaha, baik KNKT maupun BPPT, menggunakan alat yang canggih yang sensitivitasnya tinggi," tuturnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore