Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 20 Mei 2018 | 19.17 WIB

Buntut 200 Nama Mubalig, PAN: Kemenag Mengotak-ngotakkan Penceramah

Partai Amanat Nasional (PAN) merespons kebijakan dari Kemenag yang merilis 200 nama mubalig - Image

Partai Amanat Nasional (PAN) merespons kebijakan dari Kemenag yang merilis 200 nama mubalig

JawaPos.com - Publik terus bereaksi terhadap kebijakan Kementerian Agama (Kemenag) yang merilis 200 nama mubalig. Apalagi belum tentu dari semua nama-nama yang disebutkan itu akan dipakai masyarakat. Bahkan ada mubalig yang tidak bersedia namanya masuk di dalam daftar itu. Tak ayal kebijakan Kemenag itu dianggap sebagai suatu hal yang tidak ada urgensinya.


Menurut politikus PAN Saleh Partaonan Daulay nama-nama mubalig yang dirilis Kemenag itu tidak urgensinya. Sebab tidak ada larangan terhadap masyarakat yang memakai jasa mubalig di luar 200 nama tersebut.


"Apa gunanya daftar itu? Kan tidak harus diiikuti? Berarti hanya sekadar menarik perhatian," ujarnya kepada JawaPos.com, Minggu (20/5).


Lebih jauh dikatakan Saleh, Kemenag telah menciptakan sebuah kesan bahwa penceramah yang masuk dalam daftar 200 itu diakui negara melalui Kemenag. Sementara di luar nama itu ada kesan dianggap tidak begitu berkontribusi dalam syiar dan dakwah Islam yang mencerahkan.


"Saya malah khawatir, keluarnya daftar penceramah itu bisa mengkotak-kotakkan para penceramah," tegas Saleh.


Padahal saat ini banyak sekali ulama yang mencerahkan. Ilmunya bagus, retorikanya teduh, dan orientasinya sangat nasionalis. Tetapi sayang, Kemenag tidak mengetahuinya dan tidak dimasukkan di dalam daftar 200 mubalig yang baru dirilis Jumat (18/5) lalu.


Dia menyarankan kementerian yang dipimpin Lukman Hakim Saifuddin itu merevisi nama-nama yang dirilis tersebut. Sebab ada nama-nama yang tidak bersedia masuk ke dalam daftar itu. Mereka tidak bersedia itu memiliki beragam alasan. Mulai ketidakpasan ilmu agama atau merasa kurang pantas.


Sedangkan nama-nama yang dianggap memumpuni masih belum termasuk di dalam daftar itu. "Itu artinya, mereka tidak merasa nyaman dengan daftar itu," tegasnya.


Dia menyarankan Kemenag mengerjakan tugas lain yang lebih tinggi urgensinya daripada mengeluarkan 200 nama mubalig tapi menimbulkan kegaduhan.


"Masih banyak madrasah, perguruan tinggi, pondok pesantren yang perlu ditingkatkan kualitasnya. Lebih baik energi diarahkan pada hal tersebut," pungkasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore