Presiden Prabowo Subianto saat meninjau lokasi terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1).
JawaPos.com - Tahun pertama kebijakan agraria Pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka dinilai memperlihatkan paradoks kekuasaan. Di tengah janji politik mewujudkan swasembada pangan, energi, dan air, pengentasan kemiskinan, serta pembangunan dari desa, praktik di lapangan justru menunjukkan pengulangan pola lama berupa konsesi lahan skala besar dan pembukaan hutan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika, menyatakan kebijakan agraria sepanjang 2025 mengalami pergeseran serius. Menurutnya, tata kelola agraria semakin bergerak ke arah yang sentralistik dan militeristik.
KPA menemukan setidaknya tiga pendekatan utama yang mendominasi kebijakan agraria pemerintah.
“Pertama, kekuasaan dipusatkan melalui kebijakan komando; kedua, sistem ekonomi dikelola dengan logika kapitalisme negara; dan ketiga, stabilitas politik dijaga dan dikelola secara militeristik dengan aktor utama TNI dan Polri,” kata Dewi dalam keterangan tertulis, Senin (19/1).
KPA mencatat sepanjang 2025 terjadi sedikitnya 341 letusan konflik agraria di 33 provinsi dengan luas mencapai 914.547,94 hektare dan berdampak pada 123.612 keluarga di 428 desa.
“Jumlah ini naik sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” ucap Dewi.
Provinsi dengan konflik agraria tertinggi antara lain Jawa Barat, Sumatera Utara, Papua Selatan, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Dewi menyebut konflik-konflik tersebut banyak dipicu oleh proyek investasi berbasis lahan.
“Konflik agraria lama yang tidak selesai bertemu dengan konflik baru akibat kebijakan pembangunan dan investasi yang terus dipaksakan,” ucapnya.
Lonjakan konflik tersebut diikuti meningkatnya kekerasan dan kriminalisasi. Dewi mengungkapkan, sepanjang 2025 terdapat 404 orang dikriminalisasi, 312 orang mengalami penganiayaan, 19 orang tertembak, dan satu orang meninggal dunia.
“Pihak keamanan perusahaan menjadi pelaku kekerasan terbanyak, disusul polisi dan TNI,” ujarnya.
Di sektor perkebunan, Dewi mengatakan konflik agraria mencapai titik tertinggi. Ia menyebut, perkebunan menjadi pemicu utama konflik agraria dengan 135 letusan konflik, naik 21 persen dibanding tahun sebelumnya.
Ia mengungkapkan, sawit, tebu, dan food estate sebagai penyumbang terbesar terjadinya konflik agraria. Hal itu akibat ambisi swasembada pangan dan energi yang sering kali berbenturan dengan ruang hidup rakyat.
“Kebijakan tersebut kerap mengorbankan kedaulatan ruang masyarakat di tingkat tapak,” tuturnya.
Konflik agraria di sektor pertambangan juga meningkat signifikan. Dewi menyebut nikel dan batubara sebagai pemicu utama.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
