
Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari (mimbar-rakyat.com)
JawaPos.com – Presiden Prabowo Subianto kini secara tegas menerima bantuan bagi pemulihan terdampak bencana sumatera. Penerimaan bantuan itu sebagai upaya percepatan pemulihan pascabencana yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Keran penerimaan bantuan asing sempat ditolak Presiden Prabowo Subianto, dengan alasan pemerintah Indonesia masih sanggup menangani terdampak bencana Sumatera yang menelan korban ribuan jiwa.
Pakar hukum tata negara Universitas Andalas (Unand), Feri Amsari, menegaskan penanggulangan bencana pada dasarnya tidak bisa dilakukan sendiri. Ia menyatakan, bantuan asing yang dikirimkan merupakan bentuk rasa kemanusiaan dari negara lain terhadap Indonesia.
“Sependek pengetahuan saya, kalau menanggulangi bencana ini enggak bisa sendiri. Ini bareng-bareng kerja. Makanya betul rasa kemanusiaan yang dikedepankan,” kata Feri Amsari dalam siniar Youtube, Jumat (2/1).
Ia menilai, bantuan internasional merupakan bagian dari solidaritas global yang lazim terjadi ketika sebuah negara mengalami bencana besar. Oleh karena itu, tidak ada alasan rasional untuk menutup pintu bagi negara lain yang ingin membantu secara tulus.
“Dan bagi saya konyol kalau kita menolak bantuan luar negeri kalau negara-negara lain memang mau membantu. Orang mau membantu kok dilarang,” ujar Feri.
Aktivis hak asasi manusia (HAM) ini juga menekankan, dalam konteks penanganan bencana, semakin banyak pihak yang terlibat, semakin cepat pula proses pemulihan dapat dilakukan. Ia mengibaratkan, kerja penanganan bencana seperti pekerjaan besar yang membutuhkan banyak tangan.
“Ya minimal gini, dua tangan menyelesaikan sesuatu yang katakanlah berantakan itu akan lambat,” ucapnya.
Dengan kerja kolektif, dampak bencana bisa ditangani lebih cepat dan masyarakat dapat segera kembali menjalani kehidupan normal.
“Tapi kalau banyak tangan, bahu-membahu, saling tolong-menolong, cepat nih. Orang juga mungkin akan hidup normal lebih cepat,” urainya.
Lebih lanjut, Feri menekankan bahwa bantuan asing tidak selalu identik dengan intervensi atau kepentingan politik tertentu. Selama mekanisme dan pengawasannya jelas, bantuan tersebut justru dapat memperkuat kapasitas negara dalam merespons bencana.
Ia menilai pernyataan Presiden yang sempat menutup diri terhadap bantuan asing perlu ditinjau ulang, terutama dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan dan kebutuhan masyarakat terdampak.
“Oleh karena itu, bagi saya ini kesempatan Presiden menarik ucapannya,” imbuhnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto memastikan bahwa pemerintahanya tidak menolak penerimaan bantuan dalam pemulihan penanganan bencana di Sumatera. Ia menegaskan, pada prinsipnya Indonesia terbuka terhadap bantuan kemanusiaan yang diberikan secara tulus dan melalui mekanisme yang jelas.
“Saya sudah dilaporkan oleh Pak Gubernur, dan nanti saya akan bicarakan dengan beberapa pejabat lain, mekanismenya (soal bantuan). Kalau ada pihak yang tulus ikhlas mau membantu, ya kita jelas sebagai manusia kita masa menolak bantuan? Asal bantuannya itu jelas,” ungkap Prabowo usai meninjau hunian sementara korban bencana di Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Kamis (1/1).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
