
Foto erupsi Gunung Semeru pada Jumat (26/9) pagi hari (HO-PVMBG)
JawaPos.com - Letusan Gunung Semeru hari ini (19/11) turut dimonitor oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB memantau perkembangan situasi pasca erupsi, khususnya terkait dengan dampak yang dirasakan oleh masyarakat.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto memerintahkan seluruh jajarannya untuk merespons perkembangan situasi dan dampak erupsi, khususnya dampak korban, kerusakan dan pengungsian. Laporan sementara Pusdalops BNPB, malam ini sudah ada 3 desa di 2 kecamatan yang terdampak.
”Desa Supit Urang dan Desa Oro-Oro Ombo di kecamatan Pronojiwo, dan Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari.
Laporan terakhir menyatakan bahwa petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dibantu unsur terkait telah mengevakuasi warga ke tempat pengungsian. Data sementara mencatat ada 300 warga mengungsi di waktu di 2 lokasi berbeda.
”Diantaranya Balai Desa Oro-oro Ombo sekitar 200 jiwa dan SD 2 Supiturang 100 jiwa. Selain itu, terdapat sejumlah warga dievakuasi menuju Balai Desa Penanggal. Namun pihak BPBD masih melakukan pendataan di lapangan,” terang dia.
Abdul Muhari menyatakan, Pemerintah Kabupaten Lumajang sudah menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari. Mulai hari ini sampai 26 November 2025. Dengan begitu pos komando segera diaktifkan dan penanganan darurat bencana dapat berjalan secara efektif.
Sebelumnya, Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) erupsi sekitar pukul 14.13 WIB. Berdasar informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), jarak luncur awan panas saat erupsi kurang dari 13 kilometer.
Dilihat secara visual, awan panas guguran teramati mengarah ke tenggara dan selatan. Selain itu, juga teramati satu kali awan panas ke arah tenggara-selatan Besuk Kobokan. Dengan naiknya status Gunung Semeru, PVMBG merekomendasikan beberapa langkah. Yakni:
Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar.
Tidak beraktivitas dalam radius 8 Km dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
