Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 23 Mei 2023 | 18.00 WIB

BRIN Kebut Riset Vaksin Malaria hingga DBD

Suasana Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (26/3/2023). (FOTO: FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS) - Image

Suasana Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Rabu (26/3/2023). (FOTO: FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS)

JawaPos.com - Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan, target dana abadi penelitian yang dicanangkan pemerintah mencapai Rp 100 triliun.

"Sekarang masih jauh. Setiap tahun pokoknya ditambah," tuturnya. Dengan semakin besarnya pokok dana abadi penelitian, diharapkan nilai manfaat atau hasil investasi setiap tahun ikut naik.

Handoko menegaskan, secara akumulasi, tahun ini diharapkan kucuran hasil investasi dana abadi penelitian untuk kegiatan riset bisa mencapai Rp 1 triliun. Dia mengatakan, skema pendanaan riset yang ada di BRIN bersifat terbuka dan kompetisi.

Dia menceritakan sempat menerima keluhan dari peneliti BRIN karena sering tidak lolos. Sebaliknya, banyak usulan kegiatan riset oleh kampus atau perguruan tinggi yang lolos.

Menurut Handoko, kondisi tersebut murni dari hasil seleksi pengajuan proposal yang masuk. Jika proposal dari internal BRIN tidak lolos, berarti mereka memang kalah bersaing dengan usulan dari perguruan tinggi atau kampus.

Mantan kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut mengatakan, tidak ada tema khusus terkait pengajuan penelitian atau riset untuk didanai dari LPDP itu. Secara umum hanya dibagi berdasar karakter aktivitas penelitiannya. Misalnya, ada kegiatan RIIM untuk ekspedisi Papua, Wallace, Borneo, dan Indonesia Barat. "Jadi, berdasar lokus atau lokasi penelitiannya," ujarnya.

Handoko mengatakan, saat ini ada beberapa penelitian yang terus dikebut. Di antaranya, penelitian untuk memperoleh vaksin penyakit malaria. Dia menyatakan, malaria adalah penyakit endemis Indonesia. Tetapi, sampai saat ini belum ada vaksinnya.

"Saya tidak bisa mengatakan sudah seberapa jauh dan targetnya kapan," ungkapnya. Yang jelas, dia mengatakan, untuk penyakit-penyakit endemis, sudah harus diupayakan vaksinnya. Selain malaria, ada penyakit TB dan demam berdarah atau dengue. Handoko menegaskan, jangan sampai vaksin malaria, misalnya, keduluan negara lain. Sampai akhirnya Indonesia harus membeli vaksinnya dari negara lain itu. (wan/c19/oni)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore