
Suasana dapur SPPG Jatinegara 01, Jakarta Timur/(Dimas Choirul/Jawapos.com).
JawaPos.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jatinegara 01 sudah berjalan setengah tahun sejak Maret 2025. Selama enam bulan, layanan di SPPG ini telah menjangkau ribuan penerima manfaat.
“Dan kita sekarang itu penerima manfaat kita di 3.960. Itu sudah termasuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita dan anak sekolah,” jelas Kepala SPPG Jatinegara 01, Tommy Afoan kepada Jawapos.com, Selasa (30/9).
Sejumlah 15 sekolah juga masuk dalam cakupan distribusi makanan bergizi, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA di wilayah Jatinegara. Meski sempat menemui kendala bahan baku pada awal pelaksanaan, kini di SPPG Jatinegara 01 berjalan lancar tanpa kendala berarti.
"Tapi setelah itu sudah tidak ada lagi. Sampai sekarang Alhamdulillah sudah hampir 6 bulan ini semuanya sudah lancar-lancar aja sih,” tambahnya.
Sebanyak 50 relawan bahu-membahu setiap hari di SPPG Jatinegara 01 untuk memastikan makanan bergizi sampai ke ribuan penerima manfaat. Proses pengolahan dimulai sejak sore hari hingga dini hari.
“Bahan baku biasanya datang jam 4 sore, nanti jam 6 habis maghrib itu tim pengolahan sudah mulai, nanti chefnya datang sekitar jam 2 dini hari tinggal masak,” ungkapnya.
Kepala SPPG Jatinegara 01, Tommy Afoan/(Dimas Choirul/Jawapos.com).
Keamanan pangan menjadi prioritas utama SPPG Jatinegara 01 dalam menjalankan program MBG. Dari pemilihan bahan baku hingga distribusi, semua proses mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Memang SOP-SOP ini memang sudah dibuat oleh BGN dan memang sudah ada dan itu bagus. Hanya sekarang tinggal penerapannya saja,” kata Tommy.
Ia menjelaskan, mulai dari bahan baku datang hingga pengolahan, semua diperiksa ketat. “Kalau misalkan kita lihat bahan baku sudah tidak bagus, kembalikan saja ke suppliernya. Setelah itu kalau sudah ter-filter masuk ke ruangan kita, cek suhunya terus setelah itu masuk ke bagian pengolahan,” jelasnya.
Tes Organoleptik Sebelum Pendistribusian
Lebih lanjut, Tommy mengatakan, setiap makanan MBG wajib melewati tes organoleptik sebelum didistribusikan ke sekolah. Adapun indikator tes meliputi rasa, tekstur, serta bau.
“Jadi, sebelum makanan itu sampai, itu screening sudah kita lakukan bertahap. Jadi, screening pertama yang kami lakukan adalah di dapur itu sendiri. Jadi, kita mencoba rasa, tekstur, dan bau,” jelas Tommy.
Ia menegaskan bahwa pihak sekolah bukanlah “kelinci percobaan”. Pasalnya, sebelum makanan dikirim kepada siswa atau penerima manfaat lainnya, para relawan dan pengurus dapur mencicipinya terlebih dahulu.
"Jadi ini yang harus diluruskan bahwa kita itu sama-sama tidak menginginkan (hal buruk terjadi) bahwa program ini kan tujuannya untuk membantu, mensejahterakan anak-anak kita untuk gizi. Terus kita juga tidak mau rekan-rekan guru yang membantu itu dijadikan korban,” tegasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
