Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 16.25 WIB

Melihat Lebih Dekat SPPG Larangan, Dapur Sunyi di Balik 3.838 Porsi MBG Setiap Hari

Suasana dapur SPPG Larangan/(Dimas Choirul/Jawapos.com). - Image

Suasana dapur SPPG Larangan/(Dimas Choirul/Jawapos.com).

JawaPos.com — Ketika sebagian besar orang sudah ingin istirahat usai pulang kerja, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Larangan - Yayasan Srikandi Maju Bersama di Kota Tangerang, Banten justru baru memulai denyut sibuknya.

Pukul 15.00 WIB, tujuh orang tim preparation sudah datang, menerima bahan baku, mencuci, memotong, bahkan memarinasi bahan makanan. Dari situlah, perjalanan ribuan porsi Makan bergizi gratis (MBG) dimulai.

“Total ada 42 relawan di SPPG Larangan. Masing-masing punya tugas berbeda. Ada tim preparation, tim dapur, tim pemorsian, tim distribusi, hingga tim cuci ompreng dan kebersihan,” kata Kepala SPPG Larangan, Mahardhika Septiardi kepada Jawapos.com, Rabu (24/9).

Rantai kerja itu berlangsung nyaris tanpa henti. Usai tim preparation, tongkat estafet diserahkan kepada tim dapur yang masuk tengah malam. Mereka memasak hingga pagi. Saat makanan matang, giliran tim pemorsian mengambil alih.

Namun, sebelum melakukan pemorsian, Kepala SPPG dan Ahli Gizi wajib melakukan uji organoleptik terhadap semua makanan yang akan dikirimkan kepada penerima manfaat dengan tujuan memastikan semua makanan yang akan diberikan memiliki kualitas yang baik dan dapat dinikmati oleh para adik-adik di Sekolah.

"Tim pemorsian mulai jam 4.45 pagi. Dari makanan matang dipindahkan ke tray, ditambah susu atau buah,” katanya.

Kepala SPPG Larangan, Mahardhika Septiardi/(Dimas Choirul/Jawapos.com).

Proses itu harus selesai sebelum tim distribusi mengangkut ribuan ompreng ke enam sekolah penerima. Dari SD hingga SMA, total 3.838 porsi MBG setiap hari lahir dari dapur Larangan. “Paling banyak di SMAN 12, ada 1.118 porsi,” sebut Mahardhika.

Bagi SPPG, soal gizi bukan perkara sederhana. Menu yang disajikan dihitung berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Mahardhika mencontohkan, untuk makan siang, asupan harus mencukupi 30 persen dari kebutuhan harian. “Kalau kebutuhan orang dewasa 2.250 kalori, maka satu kali makan siang harus mencakup sekitar 700 kalori. Itu yang kita kejar,” terangnya.

Ketelitian juga berlaku pada pemilihan bahan. Supplier wajib mengirimkan sampel untuk diuji rasa, kualitas, dan harga. Protein hewani yang terdiri dari ayam, ikan, daging dan seafood dikirim menggunakan mobil berpendingin

Di dapur, semua pekerja wajib mengenakan seragam bersih dan alat pelindung diri (APD). "Baju dari luar nggak boleh langsung dipakai di dapur. Harus ganti seragam, ganti sandal pada ruangan loker relawan baru bisa memulai kegiatan di dapur," ucapnya.

Ada pula aturan ketat soal urutan memasak. Makanan kering dimasak terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan sayurannya. Tujuannya adalah untuk tetap menjaga kualitas makanan yang akan disajukan kepada penerima manfaat.

“Kalau sayur dimasak terlalu awal, gizinya bisa hilang dan warnanya jelek. Jadi jam 4 baru kita goyang sayur,” kata Mahardhika.

Meski ritmenya padat dan penuh detail, sejauh ini SPPG Larangan jarang menemui kendala berarti. Komunikasi dengan sekolah terus dijaga lewat grup daring yang melibatkan guru. “Alhamdulillah sejak berjalan 11 Agustus 2025, tidak ada komplain. Kalau ada yang kurang langsung dikomunikasikan,” jelasnya.

Perluas Jangkauan
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) berkomitmen memperluas jangkauan MBG ke daerah lain. Program ini dirancang agar siswa di berbagai wilayah mendapat akses makanan sehat yang setara.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore