Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 September 2025 | 17.51 WIB

Kabar Baik, BGN Buka 60 Ribu Lowongan Chef untuk Dapur MBG yang Tidak Harus Warga Lokal

Petugas SPPGPalmerah menyiapkan menu Makanan Bergizi Gratis di SPPG Palmerah, Slipi, Jakarta, Senin (06/1/2025). (HANUNG HAMBARA/JAWA POS)

JawaPos.com - Badan Gizi Nasional (BGN) membuka kesempatan kerja besar-besaran bagi para chef untuk bergabung di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menyebut ada sekitar 60 ribu chef yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG di seluruh Indonesia. 

“Selama ini kebijakan kita, seluruh dapur itu karyawannya harus orang lokal. Nah terpaksa kita harus impor (rekrut) nih nanti kalau chef. Makanya kita buka peluang untuk para chef silahkan mendaftar,” ujar Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, Jumat (26/9). 

Menurut dia, saat ini ada 30 ribu dapur SPPG yang membutuhkan chef. Karena dalam satu dapur SPPG wajib terdapat dua chef bersertifikat sesuai aturan baru, maka total kebutuhan mencapai 60 ribu orang. “Nah, ini bisa dari tidak harus dari lokal,” jelasnya. 

Nanik menambahkan, keberadaan chef sangat penting untuk memastikan kualitas masakan di dapur MBG. Pasalnya, memasak dalam jumlah besar membutuhkan teknik khusus, mulai dari pengaturan suhu hingga pemilihan bahan makanan. 

“Dalam masak jumlah banyak itu perlu ada teknik-teknik. Suhunya harus sekian. Ini kalau nyuci sayur harus dicuci dulu pakai air garam supaya tidak ada ulet. Lalu kalau memasak itu gorengnya harus suhunya sekian. Nah, di sekian itu ada aturannya, ada tekniknya gitu,” terang Nanik. 

Dia mencontohkan di salah satu desa di Madiun. Ada dapur SPPG yang mempekerjakan mantan chef hotel berbintang maupun rumah makan, sehingga kualitas pengolahan makanan lebih terjaga. 

"Chef ini akan dibuka, bisa jadi dari teman mungkin di Sumatera lagi nggak punya kerjaan. Chef di sana bisa mendaftar ini di Jawa, bisa mendaftar ke seluruh dapur-dapur MBG,” katanya.

Meski begitu, peran ibu-ibu lokal tetap dibutuhkan sebagai helper (pembantu chef), yakni membantu tugas pemotongan bahan hingga menggoreng. Namun, keputusan utama di dapur tetap berada di tangan chef. 

“Kalau ibu-ibu yang lokal itu namanya helper. Helper itu tadi ada yang motong, ada yang nanti bantu goreng-goreng. Tapi penentunya pimpinan dapurnya itu harus chef,” tegas Nanik.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore