
Analisis Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel soal Rantis Brimob Tabrak Driver Ojol. (Istimewa)
JawaPos.com–Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, sebagai pelanggan setia ojek online, peristiwa tewasnya seorang driver ojol sangat menyedihkan. Begitu pula, membayangkan suasana batin pengemudi rantis saat ini, bikin pilu hati.
Dia menjelaskan, berdasar riset, polisi juga bisa merasa kecemasan tinggi. Apalagi dalam situasi kerumunan yang kacau, ketegangan sangat mungkin meninggi.
”Rantis bergerak dengan kecepatan yang masih bisa pengemudi kendalikan. Tapi tabrakan tak terhindarkan. Mengapa?” ungkap Reza.
Dia mengatakan, dalam situasi seramai itu, pengemudi tidak bisa berfokus semata-mata lurus ke depan. Pergerakan massa dalam jumlah besar secara acak menyebar, membuat pengemudi harus menyapu pandangan ke banyak titik untuk menghindari tabrakan.
Reza menguraikan, menjelang momen tabrakan, demonstran berjaket hitam secara sekaligus berada pada jarak terdekat dengan demonstran berjaket hijau dan rantis. Kedua demonstran itu bergerak dengan posisi tubuh, pola, dan kecepatan yang berbeda satu sama lain.
”Secara bertahap, rantis terlebih dahulu harus menghindar dari demonstran berjaket hitam. Dalam tempo sangat singkat, pengemudi hanya punya satu kemungkinan yakni spontan ke kiri. Adaptasi pengemudi sudah tepat,” terang Reza.
Namun pada tahap berikutnya, lanjut dia, tabrakan dengan demonstran berjaket hijau tidak terhindarkan. Rantis bergerak konstan (sama), sementara demonstran berbaju hijau tidak sama (posisi tubuh, pola, dan kecepatan) dengan demonstran berbaju hitam.
”Adaptasi pengemudi meleset, padahal adaptasi itu berhasil sesaat sebelumnya,” papar Reza.
Rantis berhenti sesaat setelah terjadi tabrakan. Menurut dia, hal itu mengindikasikan sesaat setelah terjadinya benturan, pengemudi masih cukup mampu mengendalikan diri, baik kendali diri sendiri maupun oleh penumpang rantis.
”Rantis kemudian bergerak. Ini manifestasi flight sebagai akibat kepanikan,” tandas Reza.
”Jadi, dua kondisi psikis pengemudi awalnya dalam situasi fear dan miskalkulasi pada saat mengantisipasi dua demonstran yang berbeda (tidak konstan),” imbuh dia.
Dikaitkan dengan mens rea (level kesadaran) bukan motif (jenis) pengemudi, dia menegaskan, perlu dibedakan dua momen. Pada momen tabrakan, mens rea pengemudi adalah negligence. Sedangkan pada momen rantis bergerak kembali, mens rea pengemudi adalah recklessness atau bisa pula negligence (butuh pendalaman).
”Kedua mens rea tersebut berada pada level rendah. Alhasil, sekali lagi, kejadian ini menyedihkan bagi demonstran berjaket hijau, yang saya bayangkan dia adalah pengemudi ojol dan pengemudi rantis. Andai para petinggi negara ini lebih amanah, tidak akan terjadi ini musibah,” beber Reza.
”Semoga investigasi berlangsung tuntas, menyeluruh, objektif, dan transparan,” ujar Reza Indragiri Amriel.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
