Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 1 Juni 2025 | 23.08 WIB

Terinspirasi Keteladanan Komandan Perang Khalid bin Walid, Pakar Followership Muhsin Budiono Harumkan Indonesia di AS

Pakar Followership Indonesia Muhsin Budiono Nurhadi (kanan) bersama Robert Kelley yang menjadi legenda Followership dunia. (Dokumentasi Muhsin) - Image

Pakar Followership Indonesia Muhsin Budiono Nurhadi (kanan) bersama Robert Kelley yang menjadi legenda Followership dunia. (Dokumentasi Muhsin)

JawaPos.com - Pakar Followership Muhsin Budiono Nurhadi mengharumkan nama Indonesia di Amerika Serikat (AS). Dia meraih penghargaan The Most Intriguing Paper pada event The 4th Global Followership Conference (GFC) di AS. Penghargaan ini didapat dari paparan yang terinspirasi Khalid bin Walid, seorang komandan perang Islam di zaman Khalifah Umar. 

Even GFC tersebut diselenggarakan di California pada 28-31 Mei. Sekitar 30 menit Muhsin menyampaikan makalahnya yang berjudul Power-Move Act: A Followership Lesson from Khalid ibn Al-Walid. Makalah itu disampaikan dengan format presentasi dan tanya jawab. 

Dalam presentasi itu, Muhsin memperkenalkan terminologi Power-Move Act (P-M Act). Sebuah terminologi yang terinspirasi sikap mulia komandan perang pasukan muslim terhebat sepanjang sejarah Islam. Yaitu Khalid bin Walid. Seperti tercatat dalam buku sejarah, Khalid menerima dengan kepatuhan dan lapang dada atas keputusan Khalifah Umar yang mencopot jabatannya sebagai Panglima atau Jendral pasukan muslim. 

Meskipun pada saat itu Khalid tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan dia sedang berprestasi tinggi dengan selalu meraih kemenangan di setiap perang yang dipimpinnya. 

Muhsin mengatakan P-M Act merupakan terminologi yang menggambarkan sikap penerimaan kondisi shifting ekstrem dari jabatan leaders yang tinggi. Namun secara mendadak mendapat demosi berlipat maupun dicopot dari posisinya. Sehingga dia menjadi follower biasa atau bahkan tak menjabat sama sekali.

"Pada praktiknya, di organisasi maupun korporasi ada saja kondisi seseorang yang harus kehilangan jabatan secara ekstrem yang bukan sebab melakukan kesalahan atau fraud," kata Muhsin dalam keterangannya Minggu (1/6). Muhsin menambahkan kehilangan jabatan itu bisa jadi karena restrukturisasi organisasi, tekanan eksternal, faktor politis, ataupun sebab-sebab lainnya.

Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu mengatakan, penghargaan ini juga merupakan bentuk pengakuan atas kontribusi signifikan Muhsin dalam pengembangan ilmu dan praktik followership. Baik di Indonesia maupun secara global. Pada konferensi itu, Muhsin dipercaya masuk dalam kepanitiaan GFC 2025.

Sehingga mewajibkannya berkolaborasi dan bekerjasama mempersiapkan GFC bersama praktisi, penggiat, dan pemerhati followership dari seluruh dunia. Dia mengungkapkan tantangan terbesar dari menjadi panitia GFC adalah beda waktu yang sangat signifikan antara Indonesia dengan AS. 

"Karena sebagian besar panitia berada di AS dan Kanada jadi saya terpaksa harus legowo kalau meetingnya online jam 11 malam atau bahkan jam 2 pagi WIB," jelas Muhsin. 

Untuk diketahui Muhsin diakui komunitas followership dunia sebagai pakar followership global. Dia juga sudah mendapatkan sertifikasi standar internasional untuk mengajar followership. Sertifikasi itu dia dapatkan setelah mengikuti program sertifikasi dari pakar followership dunia, seperti Ira Chaleff dan Marc Hurwitz.

Lewat pengalamannya selama 17 tahun lebih sebagai trainer, akademisi, dan praktisi followership, Muhsin berperan besar dalam memperkenalkan dan mengembangkan followership di Indonesia. Muhsin yang juga merupakan karyawan aktif PT Pertamina telah berkontribusi positif dalam penyusunan bahan ajar, penulisan artikel, dan buku followership bersama pakar-pakar followership global.

Muhsin meyakini bahwa pemahaman yang utuh tentang followership sangat penting. Sehingga bisa mendapatkan perspektif yang seimbang dalam memahami dinamika hubungan antara pemimpin (leader) dan pengikut (follower). 

Menurut dia, followership merupakan ilmu dan skill yang penting dipelajari serta diterapkan untuk pengembangan diri dan mengasah kemampuan leadership skill. Sehingga pada waktunya dapat memberikan pengaruh positif terhadap pemimpin dan lingkungan sekitar dalam konteks hubungan pemimpin-pengikut yang kolaboratif (partnership).

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore