Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 30 Mei 2025 | 20.28 WIB

Kronologi Tewasnya Bocah Kelas 2 SD di Riau Akibat Di-bully Kakak Kelasnya: Luka Lebam, Mimisan dan Sempat Muntah Darah

ilustrasi perundungan. Allkpop by naver - Image

ilustrasi perundungan. Allkpop by naver

JawaPos.com - Peringatan keras untuk Anda para orang tua! Pengawasan dan pengendalian terhadap perilaku anak-anak wajib dipertegas supaya tidak sampai memakan korban jiwa.

Seperti yang dilakukan oleh anak-anak SD di SDN 012 Desa Buluh Rampai, Kecamatan Seberida, Indragiri Hulu, Riau, melakukan bullying dan perundungan terhadap KB, bocah kelas 2 SD berumur delapan tahun hingga berujung sakit dan meninggal dunia.

Perundungan yang berujung korban jiwa itu, diduga dilakukan oleh kakak kelas korban. Bahkan, dugaan perundungan itu lebih dari satu kali dialami korban di sekolahnya dan penyebabnya dikatakan terkait dengan perbedaan suku dan agama.

Kronologi yang dipaparkan oleh Gimson Beni Butarbutar, 38, ayah kandung KB, pada Senin (19/5) lalu, KB pulang lebih awal dengan sepeda. Namun, ban sepedanya dikempeskan oleh kakak kelas. Esok harinya, korban kembali pulang cepat.

Saat ditanya ayahnya, KB berbohong, mengaku pulang karena ada acara sekolah. Gimson lalu menanyakan ke istrinya, dan istrinya menjelaskan KB pulang karena sakit dan sudah izin.

Malam harinya, KB mengalami demam tinggi, sakit pinggang, dan perut bagian bawahnya bengkak. Gimson lalu bertanya pada teman KB, Rio, yang menyebut KB dipukuli lima kakak kelasnya.

Gimson melapor ke wali kelas, yang berjanji akan memanggil orangtua pelaku pada Kamis (22 Mei), namun tak dilakukan. Gimson akhirnya mendatangi kepala sekolah pada Jumat (23 Mei), dan meminta dipertemukan dengan pelaku berinisial DR.

Pelaku berinisial DR mengelak, mengaku hanya menumbuk dari belakang, dan menyebut pelaku lainnya berinisial HM sebagai pelaku pemukulan di area perut. Saat Gimson menemui orangtua HM, mereka tidak terima tuduhan, mengatakan ada pelaku lain.

Berselang beberapa hari, kondisi KB makin memburuk. Ia muntah darah, kejang-kejang, dan meninggal Senin (26 Mei) pukul 02.10 WIB. Jenazah sempat dirujuk ke RSUD Pematang Reba, namun nyawanya tak tertolong.

Gimson juga mengungkap anaknya sudah sering mengalami perundungan karena latar belakang suku dan agama. 

"Seminggu yang lalu, dia itu sudah sering di-bully. Dibilang suku ini, agama ini. Itu sebelum dia sakit. Itu biasalah karena mereka namanya anak-anak sekolah," ujar Gimson Beni Butarbutar. Puncaknya, lima kakak kelas memukul KB hingga akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa tersebut kini sudah ditangani oleh
Kepolisian Resor (Polres) Indragiri Hulu (Inhu). Kepolisian juga sudah melakukan autopsi dan tinggal menunggu hasilnya.

Atas kejadian tersebut, di media sosial seperti Instagram dan X, netizen, warganet mengutuk keras aksi tersebut. Terheran-heran, sudah pasti. 

Bagaimana bisa anak SD sudah melakukan bullying dengan menggunakan isu suku dan agama. Netizen pun bertanya-tanya, bagaimana orang tua pelaku mengajar dan mendidik anaknya hingga bisa berlaku demikian.

"Anak kecil sekarang udah tahu perbedaan agama? Aduh dek, jaman om dulu agama gak masuk dalam obrolan kami dek," komentar pengguna Instagram dengan akun @om_yuriii.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore