Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 4 April 2025 | 19.08 WIB

Dua Kapal Baruna Jaya Dilelang dengan Harga Rp 7,94 Miliar

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto. (Hilmi Setiawan/Jawapos) - Image

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto. (Hilmi Setiawan/Jawapos)

JawaPos.com - Dua unit kapal Baruna Jaya yang sudah mengarungi lautan Indonesia puluhan tahun dilelang Rp 7,94 miliar. Yang terpampang di situs lelang Kementerian Keuangan itu segera menyedot perhatian.

Dua kapal riset yang dilelang itu adalah Baruna Jaya II dan Baruna Jaya IV. Baruna Jaya II dibuat bersamaan dengan Baruna Jaya I dan Baruna Jaya III pada 1989 di galangan kapal CMN Cherbourg, Prancis.

Sementara itu, Baruna Jaya IV dibuat pada 1994, juga di galangan kapal yang sama. Indonesia juga punya kapal riset Baruna Jaya VII buatan PT PAL pada 1998 dan kapal riset Baruna Jaya VIII yang diproduksi di Norwegia pada tahun yang sama.

Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menganggap wajar polemik soal lelang kapal tersebut. Sebab, keduanya dikenal secara luas karena semua kapal riset BRIN, yang sebelumnya milik LIPI dan BPPT, banyak melakukan misi-misi di luar kegiatan riset. Mulai penanganan gempa sekaligus tsunami di Aceh. Lalu, misi pencarian kotak hitam Adam Air serta Air Asia yang mengalami kecelakaan.

"Kalau yang turun di tsunami Aceh itu Baruna Jaya III dan IV," katanya kepada Jawa Pos di kantor BRIN, Jakarta (17/2).

Terkait dengan tidak munculnya lagi pengumuman lelang Baruna Jaya saat ini, Nugroho mengatakan bukan berarti kapal sudah laku terjual. "Ini sedang dimobilisasi barang-barang milik negara yang tidak masuk dilelang dahulu. Setelah itu, lelang dimulai lagi," ungkapnya ketika dihubungi kembali pekan lalu (25/3).

Urusan lelang, lanjut dia, kewenangan Kemenkeu. Sedangkan keputusan untuk melelang Baruna Jaya II dan Baruna Jaya IV sudah berdasarkan pertimbangan yang matang.

Faktornya tak cuma usia. Di antara kapal itu ada yang sudah lama tidak beroperasi. Bahkan ada yang 10 hari layar dalam satu tahun dan itu sudah berlangsung beberapa tahun.

"Kalau 10 hari layar itu, seperti hanya memanasin mesin saja," katanya.

Menurut dia, idealnya kapal riset beroperasi 100 hari layar dalam setahun. Bahkan bisa dimaksimalkan lagi menjadi 150 hari layar dalam satu warsa. Namun, dengan kondisi fisik yang sudah tua, kapal riset tidak bisa dipaksa berlayar selama itu.

Dua kapal Baruna Jaya itu juga sudah tidak efektif untuk dilakukan restorasi, perbaikan, atau sejenisnya. Biaya besar, tapi usia kapal tidak lantas jadi muda. Ongkos perbaikannya tidak sebanding dengan pemanfaatannya.

Ketika kapal tua dipaksa untuk berlayar melakukan misi penelitian, tentu sangat berisiko. Dengan beragam pertimbangan seperti itu, keputusan untuk melelang dua unit kapal Baruna Jaya tidak bisa dielakkan.

"Kita tidak bisa berpaling ke belakang. Akan ribut terus. Lebih baik melihat ke depan," tuturnya. 

Karakteristik Kapal Baru Nugroho mengatakan, dua kapal dilelang, dua kapal baru bakal beroperasi. Beberapa kapal Baruna Jaya juga masih dipertahankan. Kapal riset yang baru nanti tidak hanya dibekali perlengkapan anyar.

Tapi juga sistem pembiayaan atau anggaran yang relevan. Sebab, anggaran untuk kapal riset tidak bisa mengikuti APBN tahunan.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore