Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 April 2023 | 04.45 WIB

Pakar Psikologi Forensik Sebut Pleidoi Teddy Minahasa Bisa Ditebak, Ada Perang Bintang

Mantan Kapolda Sumatra Barat, Irjen Pol Teddy Minahasa Putra menjalani sidang tuntutan terkait kasus memperjualbelikan barang bukti narkotika jenis sabu-sabu sitaan seberat lima kilogram di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jakarta, Kamis (30/3/2023). Jaks - Image

Mantan Kapolda Sumatra Barat, Irjen Pol Teddy Minahasa Putra menjalani sidang tuntutan terkait kasus memperjualbelikan barang bukti narkotika jenis sabu-sabu sitaan seberat lima kilogram di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Jakarta, Kamis (30/3/2023). Jaks

JawaPos.com–Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyatakan, isi pleidoi Teddy Minahasa (TM) mirip prediksinya.

Menurut Reza, bagi Teddy Minahasa, kasus itu pada awalnya diniatkan sebagai penjebakan legal (chance-providing type of entrapment). Itu dilakukan dalam rangka menorehkan catatan prestasi yang dapat mendukung kenaikan jabatan dan kepangkatan Dody Prawiranegara. Namun rencana tersebut dibatalkan Teddy Minahasa.

”Sedangkan bagi DP, ini menjadi perbuatan pidana yang sama sekali tidak diketahui TM. Yakni DP dan SM (Syamsul Ma'arif) melakukan penjualan narkoba kepada Linda untuk memperoleh uang tunai yang butuhkan DP untuk menembak Mabes,” ujar Reza Indragiri Amriel.

Dia menjelaskan, makna kiasan itu sepertinya adalah pelicin untuk memperlancar karir Dody Prawiranegara di Polri. Namun begitu tertangkap, Dody mengklaim bahwa dia sebatas melaksanakan perintah dari Teddy Minahasa yang tidak bisa ditolak.

Menurut Reza, pleidoi Teddy Minahasa gamblang menunjukkan ada perang bintang di tubuh Polri.

”Dugaan tentang ini pun sudah saya kemukakan sejak Oktober tahun lalu, jauh sebelum persidangan dimulai,” papar Reza.

Keberadaan klik (clique) atau subgrup di internal kepolisian sudah cukup banyak dikaji. Jika antar klik itu saling berkompetisi secara konstruktif, lanjut Reza, itu berdampak positif bagi masyarakat. Artinya, publik bisa teryakinkan bahwa posisi-posisi penting di lembaga kepolisian diisi SDM terbaik.

”Dan kedua, strategic model dalam penegakan hukum. Yaitu polisi-polisi akan berlomba melakukan penegakan hukum bukan demi kepastian, kemanfaatan, apalagi kepastian hukum, melainkan untuk memperoleh credit point,” terang Reza.

Apa pun motif para polisi itu, menurut reza, khalayak luas akan lebih terlindungi. Terlindungi oleh para personel polisi yang gila kerja demi pangkat dan jabatan.

”Ini saya pandang sah-sah saja,” tutur Reza.

Sebaliknya, Reza menambahkan, sangat mengerikan kalau antar klik polisi saling bersaing dengan cara destruktif bahkan sabotase satu sama lain.

”Ini berbahaya, karena memperlihatkan praktik pemangsaan dalam organisasi yang berkultur toxic,” papar Reza.

Apabila antar subgrup di dalam tubuh kepolisian itu bersaing dengan cara destruktif, dia menjelaskan, hal tersebut bisa merusak kohesivitas organisasi kepolisian. Dan kalau institusi kepolisian sudah pecah belah, publik yang merasakan mudaratnya.

”Lebih-lebih, kalau sesama klik dan personel polisi saja bisa terjadi kriminalisasi, betapa rentannya masyarakat mengalami malapetaka serupa,” ucap Reza.

Di samping dengan alasan mengurangi pesaing dalam berkarir, Reza mengatakan, sabotase antar klik di internal kepolisian juga dapat dilakukan untuk melindungi oknum. Artinya, polisi-polisi baik dijungkal sedemikian rupa agar polisi-polisi yang nakal tetap leluasa melakukan pidana. Baik pidana secara individual maupun dalam bentuk sindikasi bersama pihak eksternal kepolisian.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore