
Ilustrasi bullying
JawaPos.com – Langkah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menghentikan sementara program studi (prodi) anestesi Universitas Dipenegoro (Undip) di RSUP Dr. Karyadi Semarang mendapat tentangan.
Keputusan itu diambil menyusul adanya dugaan perundungan atau bullying terkait kasus bunuh diri seorang mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di prodi tersebut.
Asosiasi Dosen Hukum Kesehatan Indonesia menentang keputusan Kemenkes tersebut. Sebab, izin program studi dikeluarkan oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Kelembagaan Ditjen Dikti. Karena itu, penutupan prodi seharusnya dilakukan oleh Kemendikbudristek.
"Dirjen Yanmed Kementerian Kesehatan tidak memiliki kewenangan tersebut sehingga ini adalah sebuah kesalahan fatal," kata Ketua Asosiasi Dosen Hukum Kesehatan Indonesia M Nasser kepada wartawan, Kamis (15/8).
Asosiasi menilai keputusan ini dibuat terburu-buru. Asosiasi juga telah melakukan pendalaman di lapangan, dan sejauh ini hasilnya diragukan telah terjadi perundungan kepada korban.
Dasarnya adalah korban merupakan mahasiswa semester 6, artinya berada pada posisi senior. Selain itu, korban juga sudah pernah menyampaikan permohonan mengundurkan diri sebagai peserta PPDS Anestesi.
Asosiasi, lanjut Nasser, menemukan fakta bahwa korban pernah menjalani operasi untuk keluhan tulang belakang. Dia juga kerap melakukan konsultasi psikiatrik.
"Dari hasil penelitian lapangan tersebut, maka pengambilan kesimpulan bahwa korban meninggal karena di-bully adalah sesuatu yang tidak berdasar dan berpotensi menyebarkan fitnah," jelas Nasser.
Mantan Komisioner Kompolnas itu menambahkan, pendidikan dokter spesialis anestesi merupakan pendidikan emergensi yang sangat berat. Mereka harus memiki ketahanan mental di atas rata-rata karena memegang beban kerja berat.
"Dalam kasus ini harus diperiksa terlebih dahulu apakah pemicunya faktor eksternal atau justru faktor internal. Adanya temuan buku harian hanyalah salah satu dari petunjuk yang dapat dijadikan alat bukti dan tidak bisa disebut sebagai satu satunya bukti," pungkas Nasser.
Sebelumnya, seorang mahasiswi PPDS Fakultas Kedokteran Undip Semarang berinisial AR meninggal dunia diduga bunuh diri di tempat kos di Jalan Lempongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang Kompol Andika Dharma Sena membenarkan penyelidikan terhadap kematian korban AR yang ditemukan pada Senin (12/8). ”Kita selidiki dulu, karena ada informasi yang bersangkutan sakit,” papar Andika Dharma Sena.
Menurut Andika, kamar kos dalam kondisi terkunci saat korban ditemukan. Sementara dari informasi yang dihimpun, korban meninggal dunia akibat suntikan obat ke tubuhnya. Korban diduga mengakhiri hidup akibat menjadi korban perundungan saat menjalani pendidikan.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
