Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 29 Februari 2024 | 22.43 WIB

Menengok Penanganan Banjir di Surabaya Menjelang 3 Tahun Kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin pengerjaan proyek pencegahan banjir. - Image

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi memimpin pengerjaan proyek pencegahan banjir.

JawaPos.com–Tepat pada 26 Februari 2024, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi genap tiga tahun memimpin Kota Pahlawan. Selama tiga tahun memimpin Surabaya, ternyata titik genangan air banjir terus berkurang, dari yang awalnya 451 titik genangan sejak dia dilantik, kini tersisa 245 titik genangan, dan itu akan segera dituntaskan.

Penanganan banjir Surabaya dilakukan dengan menerapkan skala prioritas dan pemetaan wilayah genangan, yang diklasifikasi sesuai sistem drainase atau kawasan pengaliran drainase yang sama dengan membuat peta SAMID (Sistem Aplikasi Monitoring Infrastruktur Drainase).

”Jadi, selama tiga tahun ini kita sudah menyelesaikan 206 titik, sisanya 245 titik akan segera kita tuntaskan,” kata Wali Kota Eri di ruang kerjanya, Kamis (22/2).

Menurut dia, selama ini kemungkinan banyak warga yang kurang paham tentang bedanya banjir dengan genangan. Kalau banjir itu airnya bisa sampai satu hari. Namun, kalau 15-20 menit airnya hilang, itu bukan banjir tapi genangan.

”Nah, itu terjadi karena ada saluran yang tidak terpenuhi,” kata Eri.

Selain itu, elevasi permukaan air laut yang lebih tinggi dari daratan juga menjadi indikator penyebab terjadinya genangan. Karena itu, ketika hujan turun, air yang mengalir tidak bisa langsung masuk ke laut.

Wali Kota Eri Cahyadi meninjau genangan di Kota Surabaya.

”Jadi ketika hujan dia (aliran air) pasti tidak bisa langsung masuk ke laut, jadi butuh waktu. Nah, itu genangan, maksimal 15-20 menit,” tutur Eri.

Di samping itu, penyebab genangan juga terjadi akibat berkurangnya lahan kosong di Surabaya sebagai tempat resapan air. Setiap kawasan perumahan yang dibangun, seharusnya dulu menyediakan lahan untuk resapan air hujan seperti bozem.

”Kalau dulu itu tanah lapang yang dibuat menampung air, tiba-tiba dibuat perumahan, ya secara otomatis daya tampungnya berkurang. Sehingga perumahan itu seharusnya ada daya tampung air, tapi sudahlah itu, hari ini kita selesaikan,” papar Eri.

Oleh sebab itu, Wali Kota Eri menegaskan, penanganan banjir menjadi prioritas Pemkot Surabaya pada 2024. Nah, sebagai bentuk komitmen dalam menyelesaikan persoalan itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) melakukan perjanjian kontrak kinerja dengan Wali Kota Eri Cahyadi.

”Perjanjian kontrak kinerja sudah saya tanda tangani. Dan saya tanda tangannya tidak hanya kepala dinas, tapi kepala bidang juga langsung tanda tangan dengan saya,” imbuh Eri.

Sementara itu, Kepala DSDABM Kota Surabaya Syamsul Hariadi menjelaskan bahwa pengendalian dan penanganan banjir di Kota Surabaya dilakukan dengan cara di hulunya ditahan, kemudian di tengah dilakukan manajemen airnya, dan di hilir dilakukan percepatan pengaliran.

”Untuk mempercepat pengalirannya, Pemkot Surabaya menggunakan pompa air yang kapasitasnya mulai dari 1- 5 meter kubik per detik,” kata Syamsul.

Dia juga memastikan bahwa saat ini Surabaya memiliki sebanyak 72 rumah pompa yang masing-masing memiliki pompa antara 3-7 unit. Alhasil, kalau ditotal semuanya, Surabaya memiliki 315 unit pompa.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore