Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Februari 2024 | 14.46 WIB

Marak Promosi Umrah Backpacker, AMPHURI: Umrah Beda dengan Wisata!

ILUSTRASI UMRAH (Dok. JawaPos.com)

JawaPos.com – Beberapa waktu terakhir, umrah mandiri dengan biaya murah atau backpacker sedang jadi perbincangan. Promosi maupun berbagi pengalaman mengikuti umrah backpacker rame diposting di sejumlah media sosial. Masyarakat perlu memahami bahwa umrah itu berbeda dengan wisata.

Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Firman M. Nur. Dia mengatakan perjalanan umrah berbeda dengan perjalanan wisata atau traveling pada umumnya.

’’Kalau wisata, itu kan pokoknya kita sampai terus foto di lokasi,’’ katanya pada Minggu (18/2) malam. Sedangkan perjalanan umrah, tujuan utamanya adalah ibadah. Tidak sebatas sampai di Makkah kemudian berfoto di depan Kakbah atau Masjidilharam.

Karena ada muatan ibadah, Firman mengatakan perjalanan umrah membutuhkan peran pendamping. Keberadaan pendaming ini yang biasanya tidak ada dalam rombongan umrah backpacker. Sedangkan untuk travel umrah resmi, harus menyiapkan seorang pembimbing ibadah.

’’Berapapun jumlah jemaahnya, kalau lewat PPIU (penyelenggara perjalanan ibadah umrah) wajib ada pembimbingnya,’’ katanya. Firman menuturkan pembimbing itu bisa diterbangkan dari tanah air bersama jemaah. Atau bekerjasama dengan WNI di Arab Saudi yang memahami rukun, syarat, sunah, dan aspek-aspek lain tentang ibadah umrah.

Firman juga menjelaskan itung-itungan biaya, sejatinya tidak ada perbedaan antara mengikuti umrah lewat travel resmi maupun umrah backpacker. Dia mengatakan komponen besar dalam perjalanan ibadah umrah adalah harga tiket penerbangan.

Dia mengatakan umrah backpacker sempat viral, karena saat itu ada promosi tiket pesawat. Kalaupun tersedia promo, biasanya untuk jumlah kursi yang sangat terbatas. Sedangkan untuk harga tiket pesawat pada umumnya, sama saja. Bahkan untuk travel umrah resmi, bisa lebih hemat karena membeli tiket dalam jumlah banyak dan secara langsung ke maskapai.

Untuk itu Firman menegaskan masyarakat perlu berpikir yang cermat dalam menentukan perjalanan umrahnya. Kunci yang harus dipahami adalah, umrah itu adalah ibadah. Sehingga terikat dengan ketentuan rukun, syarat, sunah, dan lainnya. Jangan sampai sudah terbang jauh ke Saudi, tetapi ibadah umrahnya tidak sempurna sesuai tuntunan agama Islam.

Sementara itu Kementerian Agama (Kemenag) masih cenderung menilai bahwa umrah backpacker adalah pelanggaran hukum. Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kemenag Jaja Jaelani menegaskan, pemerintah melarang masyarakat melakukan ibadah umrah secara mandiri maupun backpacker. Karena bertentangan dengan UU 8/2019 pasal 86 yang secara khusus membahas tentang perjalanan ibadah umrah.

’’Selain itu sudah merupakan tugas negara dalam melindungi keamanan warga negaranya, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,’’ katanya. Jaja mengatakan bagi jamaah yang belum pernah ada pengalaman ke Arab Saudi, akan sangat berbahaya. Sebab dalam pelaksanaan ibadah umrah ada sejumlah risiko yang harus dihadapi.

Jaja juga mengatakan, ada dugaan promosi umrah backpacker melibatkan travel umrah atau penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). Dia mengancam jika ada PPIU resmi yang terlibat dalam pelaksanaan umrah mandiri atau backpacker, akan dicabut izinnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore