Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Juni 2022 | 01.28 WIB

Pengamat Sebut Tarif Naik Mahal Banget, Candi Borobudur Dikapitalisasi

Memburu Sunrise  : Pengunjung  menunggu sunrise dari  Candi Borobudur saat pagi 5/12/2019. Meskipun Paket Sunrise tergolong tiket ekslusiv, banyak wisatawan yang meminatinya . Pemerintah mencanangkan   10 Destinasi Bali Baru yang akan menjadi ikon pariwis - Image

Memburu Sunrise : Pengunjung menunggu sunrise dari Candi Borobudur saat pagi 5/12/2019. Meskipun Paket Sunrise tergolong tiket ekslusiv, banyak wisatawan yang meminatinya . Pemerintah mencanangkan 10 Destinasi Bali Baru yang akan menjadi ikon pariwis

JawaPos.com - Candi Borobudur kini menjadi perbincangan hangat masyarakat karena adanya wacana kenaikan tarif tiket dan juga pembatasan pengunjung. Hal itu menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.

Pengamat Pariwisata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Chusmeru, menuturkan, bahwa dirinya mendukung pembatasan 1.200 orang per hari untuk naik ke Candi Borobudur. Pasalnya, Borobudur adalah salah satu destinasi wisata super prioritas yang bernilai sejarah, budaya, dan religi.

"Borubudur juga menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia yang perlu dijaga kelestariannya. Oleh sebab itu, alasan pemerintah untuk membatasi jumlah pengunjung yang akan naik ke atas Candi Borobudur dapat dimaklumi," ungkapnya kepada JawaPos.com, Senin (6/6).

Adapun, pembatasan jumlah pengunjung itu dilakukan sebagai upaya konservasi situs peninggalan kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu tersebut. Menurutnya, dampak positif pembatasan jumlah pengunjung itu adalah terpelihara dan terjaganya Borobudur dari kerusakan.

Akan tetapi, upaya pembatasan jumlah pengunjung yang dibarengi tarif tiket naik ke atas candi sebesar Rp 750.000 per orang tentu saja akan berdampak buruk bagi perkembangan industri pariwisata. Pertama, tarif yang mahal bagi wisatawan domestik dan mancanegara itu akan berdampak pada citra buruk pariwisata Tanah Air.

"Dikhawatirkan akan muncul anggapan komodifikasi dan kapitalisasi terhadap Borobudur. Candi yang bernilai sejarah, budaya dan religi itu dijadikan ajang mencari keuntungan ekonomis semata," terangnya.

Kedua, diperkirakan akan terjadi penurunan angka kunjungan yang signifikan ke Borobudur akibat pengenaan tarif yang tinggi. Hal ini akan terjadi pada wisatawan yang belum pernah mengunjungi Borobudur.  "Mereka akan berpikir ulang, karena biaya ke Borobudur bisa lebih mahal dibanding biaya hotel maupun transportasi," ujar Chusmeru.

Terakhir, bagi wisatawan, tarif tersebut akan sangat menjadi beban, karena harus mengeluarkan biaya banyak. Meskipun wisatawan hanya dikenakan tarif masuk area Borobudur Rp 50.000, namun tanpa naik ke atas candi tentu tidak memuaskan.

"Semestinya pemerintah memilih cara lain untuk melestarikan Borobudur tanpa harus menguras kantong wisatawan begitu banyak. Misalnya dengan sistem reservasi pengunjung secara online sampai batas jumlah 1.200 orang per hari," imbuhnya.

Kemudian juga bisa dibuatkan daftar tunggu hari kunjungan. Kalau pun akan diterapkan biaya naik ke atas candi, perlu ditetapkan batas harga yang lebih murah secara ekonomis dan lebih dapat diterima calon pengunjung.

"Meraup keuntungan dalam industri pariwisata adalah hal yang wajar. Namun membuat wisatawan menanggung beban psikologis dan ekonomis dalam bisnis pariwisata adalah satu kekeliruan besar yang akan mencoreng citra baik pariwisata nasional," tegas dia. (*)

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore