
PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), atau ID FOOD, menyoroti kebutuhan gudang berkapasitas besar untuk menjaga pasokan bawang merah (jatengprov.go.id)
JawaPos.com - PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), juga dikenal sebagai ID FOOD, sebuah holding BUMN di sektor pangan, menyoroti pentingnya gudang penyimpanan berkapasitas besar untuk menjaga kelancaran pasokan bawang merah.
Dilaporkan tertulis dari Antara oleh JawaPos.com Selasa (9/1), Direktur Utama ID FOOD, Frans Marganda Tambunan, menekankan bahwa kendala utama yang dihadapi dalam industri bawang merah adalah fluktuasi harga yang signifikan, rendahnya saat panen raya dan tingginya setelah sebulan panen.
Guna mengatasi tantangan ini, Frans menegaskan perlunya gudang penyimpanan untuk mencegah kelangkaan dan fluktuasi harga yang berlebihan.
Dalam keterangannya, Frans mengungkapkan bahwa diperlukan pihak yang berperan sebagai off taker atau pemasok yang dapat menyimpan bawang merah untuk kemudian didistribusikan saat bukan musim panen.
ID FOOD telah berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk merancang konsep yang dapat menjaga pasokan dan stabilitas harga bawang merah di luar musim panen.
Frans menjelaskan strategi penyimpanan dengan menciptakan gudang khusus sebagai ‘control room storage’ untuk menyimpan hasil panen raya.
Data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau Bank Indonesia digunakan untuk memobilisasi bawang merah dari daerah surplus ke daerah defisit.
Setiap provinsi diharapkan memiliki gudang hub yang dapat saling mengisi kekosongan komoditas, memastikan kelancaran pasokan, dan menciptakan kestabilan harga.
“Dibutuhkan beberapa hub, misalnya, untuk bawang merah tidak hanya di Brebes, tetapi juga di Sumatera dan Sulawesi agar dapat mewakili atau mencakup beberapa daerah yang memiliki kebutuhan tahunan yang berbeda," tambah Frans.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pasokan bawang merah dan menghindari fluktuasi harga yang merugikan para pelaku industri.
Frans menyampaikan perbedaan signifikan antara komoditas bawang merah yang hampir seluruhnya diproduksi dalam negeri, dengan bawang putih yang masih sangat bergantung pada impor.
Menurutnya, kondisi iklim di Indonesia mempersulit penanaman bawang putih, meskipun beberapa daerah seperti Tegal, Temanggung, dan Nusa Tenggara Barat telah berhasil melakukannya.
Meskipun demikian, Frans mendorong para petani untuk tetap menanam bawang putih sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada impor.
Dia mengakui bahwa menghilangkan impor bawang putih sepenuhnya mungkin agak sulit, namun setidaknya, tujuannya adalah mengurangi tingkat impor yang ada.
"Kalau bicara mengenai bawang putih, mungkin agak sulit untuk sepenuhnya menghilangkan impor. Namun, yang terpenting adalah kita memiliki tujuan yang jelas, yaitu mengurangi tingkat impor dan mendorong petani untuk tetap berusaha dalam menanam bawang putih," ungkap Frans.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
