Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 Desember 2021 | 03.19 WIB

36 Petani Kopi Wakili Indonesia di Cup of Excellence Internasional

Pengusaha saat melakukan proses Roasting Kopi di Rumah Pitoe Kopi Roastery di Depok, Jawa Barat, Selasa (23/2/2021). Tahun ini pemerintah menargetkan produksi kopi nasional sebesar 834.750 ton, naik dari tahun lalu yang sebanyak 769,7 ribu ton.FOTO:MIFTAH - Image

Pengusaha saat melakukan proses Roasting Kopi di Rumah Pitoe Kopi Roastery di Depok, Jawa Barat, Selasa (23/2/2021). Tahun ini pemerintah menargetkan produksi kopi nasional sebesar 834.750 ton, naik dari tahun lalu yang sebanyak 769,7 ribu ton.FOTO:MIFTAH

JawaPos.com - Kompetisi untuk mencari kopi berkualitas dari negara penghasil kopi sudah dimulai. Dari Indonesia, sebanyak 36 petani kopi dari 7 provinsi sedang menanti penilaian akhir dari juri kompetisi kopi specialty paling prestisius di dunia, Cup of Excellence (COE). Kompetisi yang dipersiapkan jauh-jauh hari sejak triwulan I 2021 itu kini memasuki penjurian akhir di tingkat internasional.

Para petani itu berasal dari Daerah Istimewa Aceh (9 petani), Jambi (2 petani), Sumatera Selatan (1 petani), Jawa Barat (12 petani), Jawa Tengah (1 petani), Jawa Timur (3 petani), Sulawesi Selatan (1 petani), dan Nusa Tenggara Timur (1 petani). Kopi-kopi yang mereka produksi itu menggunakan empat proses, yakni natural (18 sampel kopi), washed (12 sampel kopi), honey (4 sampel kopi), dan giling basah atau wet hulled (2 sampel kopi).

“Proses giling basah ini sangat khas Indonesia. Karena dalam COE, produsen kopi lain tidak mengenal proses itu,” kata Ketua Pelaksana COE Indonesia 2021, Andi Widjaja dalam keterangan persnya.

COE Indonesia 2021 merupakan kompetisi paling bergengsi guna mencari kopi berkualitas. Standar penilaian yang dimiliki COE adalah yang tertinggi dalam industri kopi specialty. Melalui sistem yang diawasi auditor profesional, setiap kopi yang terdaftar bakal dinilai dengan skor minimal 87 guna masuk ke tahap penjurian internasional.

Pemegang lisensi dan pengoperasian COE adalah Alliance for Coffee Excellence, Inc. (ACE), organisasi nirlaba, yang berbasis di Portland, OR, USA. Penyelenggaraan COE Indonesia pada 2021 merupakan yang pertama di benua Asia, meski kompetisi ini sudah dimulai sejak 1999 lalu untuk kopi asal Brasil.

Dalam penyelenggaraan COE, panitia menerima setidaknya 158 sampel kopi, namun sebanyak 12 sampel tidak bisa melaju ke tahap Pra Seleksi. Dalam kompetisi ini, setiap peserta harus mengirimkan 2 kilogram sampel untuk tahap pra seleksi dan satu lot kopi bila lolos dari tahap pra seleksi. Setiap lot minimum 250 kilogram hingga maksimum 1.210 kilogram. Jika sampel kopinya lolos hingga ke tahap akhir, maka jumlah lot itu yang nantinya akan dilelang dan hasil lelang menjadi milik petani.

Untuk COE Indonesia, saat tahap penilaian praseleksi ada 79 sampel kopi yang lolos dan berhak melaju ke tahap nasional. Dalam tahap ini, sampel kopi terbanyak berasal dari Provinsi Jawa Barat, diikuti Sulawesi Selatan (15 sampel), Aceh (12 sampel), dan provinsi lainnya antara 1-6 sampel. Tahap Nasional ini akan menyaring kopi peserta yang akan lolos ke tahap penjurian international.

Tahap terakhir dari kompetisi ini adalah lelang daring yang diikuti semua peserta lelang yang didominasi calon pembeli dari luar Indonesia. Sebelumnya, mereka harus mendaftarkan diri ke ACE, sehingga calon pembeli adalah calon yang sudah terseleksi. Seluruh sampel kopi itu baru akan dibuka identitas petani dan kopinya setelah juri menyelesaikan penilaian pada tingkat internasional. Pemberian nilai itu hanya berlaku untuk lot kopi yang didaftarkan pada penyelenggaraan COE 2021.

ACE mengelola dua jenis lelang terkait kopi-kopi yang ikut serta dalam COE ini, masing-masing, National Winner Auction dan COE Auctions. Lelang nasional berlaku untuk kopi-kopi yang lolos ke babak internasional dan memperoleh poin 85,00-86,99. Pelaksanaannya pada 24 Januari-4 Februari 2022. Sementara lelang COE untuk kopi-kopi yang lolos ke babak internasional dan memperoleh nilai minimal 87,00. Lelang COE bakal dilaksanakan pada 27 Januari 2022 mendatang.

Untuk mengikuti lelang, calon pembeli harus mendaftar dulu agar mendapat akses guna melakukan penawaran. Harga dasar ditetapkan oleh pelaksana dan disepakati oleh ACE. Untuk lelang COE Indonesia, harga pembukaan untuk kopi dengan poin 87,00–87,99 adalah USD 5 per pon atau 0,453 kilogram. Sedangkan untuk kopi dengan poin 88,00–89,99 adalah USD 6 per pon, dan untuk kopi dengan poin di atas 90, harga pembukaan adalah sebesar USD 6,5 per pon. Setiap kenaikan penawaran adalah minimal 10 sen per pon.

Ketua Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa melihat antusiasme tinggi dari petani terkait gelaran COE yang digelar saat kondisi pandemi. Dengan 158 pendaftar, Daryanto mengakui hal itu sudah cukup baik mengingat keterbatasan panitia dalam menggelar sosialisasi yang secara daring.

“Terbatas secara fisik di daerah tertentu,” ujar Daryanto sembari menambahkan jumlah peserta itu baru setara belasan persen saja dari kepesertaan COE Brazil yang sudah digelar selama 22 tahun berturut-turut.

Wakil Ketua Umum SCAI Michael Utama mengungkapkan, masih banyak petani yang belum memahami konsep COE. “Terkait dengan SOP yang ketat,” tutur Michael.

Menyoal kualitas kopi Indonesia berkaca dari proses penjurian nasional, Michael menilai masih banyak yang belum memenuhi standar. “Dari 163 perserta yang masuk ke tahap pre selection hanya 79 ke tahap nasional. Dan dari 79 hanya 67 yang berhasil mengirimkan lot ke Gudang penampungan di Skynine Sentul,” imbuhnya.

Negara-negara penyelenggara Cup of Excellence bisa melihat celah manfaat yang sangat besar bagi masa depan kopi mereka. Tak hanya bagi para petani, tapi juga bagi pemerintah, organisasi dan pebisnis kopi yang membantu terselenggaranya kompetisi kopi tertinggi di dunia saat ini.

Keuntungan COE bukan melulu soal finansial bagi petani atau seluruh pemangku kepentingan kopi di sebuah negara. Lebih daripada itu, Cup of Excellence menciptakan warisan abadi di setiap negara yang berpartisipasi.

Andi berharap, penyelenggaraan COE bisa menjamin keberlanjutan kopi Indonesia ke depannya sehingga menjadi lebih baik. Mulai dari sisi kepemilikan atau kemitraan atas lahan, pembibitan, perawatan, hingga pasca panen pada sisi hulu. Jika tata kelola dibenahi, Andi percaya dampak turunannya bisa ikut terdongrak seperti peningkatan kualitas dan kuantitas produksi.

“Misal awalnya satu hektare hanya produksi satu ton bisa naik jadi tiga ton. Dengan demikian maka harga kopinya bisa lebih murah untuk kemudian ke hilirnya. Jadi efek berantai hingga ke konsumen,” kata Andi.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore