Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 12 Mei 2021 | 20.13 WIB

Arus Mudik Tetap Masif, Siaga Lonjakan Kasus Covid-19 setelah Lebaran

Petugas Kepolisian menghalau pemudik motor di jalur penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Pada H-3 jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H petugas gabungan dari TNI, Polri, Dishub dan Satpol PP memperketat penjaga - Image

Petugas Kepolisian menghalau pemudik motor di jalur penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (10/5/2021). Pada H-3 jelang Hari Raya Idul Fitri 1442 H petugas gabungan dari TNI, Polri, Dishub dan Satpol PP memperketat penjaga

JawaPos.com – Ancaman lonjakan kasus Covid-19 selepas Lebaran menjadi perhatian pemerintah. Sebab, meski ada larangan mudik, mobilitas yang terjadi cukup masif. Itu berpotensi meningkatkan angka penularan.

Kementerian Perhubungan mencatat, hingga Selasa (11/5), rata-rata harian pergerakan mobil yang keluar Jakarta dan sekitarnya mencapai 138.000. Sementara itu, berdasar catatan PT Jasa Marga (Persero), sejak H-7 sampai H-3 Lebaran, 381 ribu kendaraan meninggalkan wilayah Jabotabek. Mereka terpantau menuju arah timur, barat, dan selatan.

Juru Bicara Kemenhub Adita Irawati menuturkan, sebagian dari masyarakat tersebut memenuhi syarat perjalanan. ”(Namun), tidak bisa dimungkiri ada juga yang ngeyel,” ujarnya.

Adita menjelaskan, untuk transportasi umum, penerapan protokol kesehatan terbilang tertib. Di titik keberangkatan juga dilakukan tes untuk mendeteksi Covid-19. Sebaliknya, pengguna kendaraan pribadi bisa berangkat dari mana saja. ”Masyarakat memilih jam tertentu,” katanya. Tujuannya, menghindari pemeriksaan.

Pemudik yang memakai kendaraan pribadi, kata dia, patut diwaspadai. Sebab, mereka tidak melakukan tes. Sementara Kemenhub melakukan pemberhentian secara acak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam kesempatan sebelumnya sudah memperingatkan penerapan protokol kesehatan. Selain upaya preventif, pemerintah mengantisipasi lonjakan kasus dengan menyiapkan rumah sakit. ”Tugas kami adalah mempersiapkan menghadapi kondisi terburuk,” ucap Budi.

Secara nasional, ketersediaan tempat tidur di rumah sakit sebanyak 390 ribu unit. Yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19 sekitar 70 ribuan. Sementara itu, fasilitas tempat tidur ICU secara nasional adalah 22 ribu unit. Lalu, yang digunakan untuk merawat pasien Covid-19 sebanyak 7.500 unit.

”Saya ingin memberi gambaran bahwa kapasitas rumah sakit dan ICU yang kita miliki itu masih tiga kali lebih besar dari yang didedikasikan untuk Covid-19,” tuturnya. Dari jumlah tersebut, 23 ribu tempat tidur perawatan isolasi tengah digunakan. ICU yang saat ini digunakan sekitar 2.500 unit.

Budi meminta para pemimpin daerah untuk mewaspadai lonjakan kasus. Sebab, data yang dipaparkan Kemenkes merupakan rata-rata. Bisa jadi dalam satu provinsi jumlah keterisian tempat tidur lebih tinggi. Saat ini delapan provinsi memiliki tingkat keterisian RS cukup tinggi. Yakni, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Barat, Lampung, dan Nusa Tenggara Timur.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga memperingatkan adanya lonjakan kasus. Ketua Tim Mitigasi Dokter IDI dr Adib Khumaidi SpOT mengingatkan agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan menyiapkan diri. Alat kesehatan seperti ventilator, obat, dan alat pelindung diri harus ada. ”Untuk mengantisipasi lonjakan pascalibur hari raya hingga dua bulan ke depan,” ungkapnya.

Adib menyatakan bahwa vaksinasi saja tidak menjamin tubuh kebal. Tetap harus dilakukan protokol kesehatan. Materi terkait protokol kesehatan itu, menurut Adib, bisa disosialisasikan lewat khotbah Idul Fitri.

Di bagian lain, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengecek sejumlah titik penyekatan. Senin malam (10/5) dia mendatangi gerbang tol Cikarang. Kemudian, kemarin (11/5) Muhadjir memantau gerbang tol Cikupa, Banten. Dia mengapresiasi pelaksanaan protokol kesehatan yang terus dijalankan secara baik oleh petugas maupun pengguna jalan.

Dia menegaskan bahwa pemerintah tidak main-main dalam upaya pengetatan sampai di tujuan akhir bagi mereka yang nekat mudik. ”Yang datang juga akan kita tangani, kita urus betul, kita karantina. Akan percuma saja nanti mudiknya,” sambung mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) tersebut.

Baca Juga: Mama dan Anak-Anak Sudah Ikhlas, Ayah di Sini ya...

Sementara itu, Corporate Communication & Community Development Group Head PT Jasa Marga (Persero) Tbk Dwimawan Heru menyampaikan, 381 ribu kendaraan meninggalkan Jabotabek sejak H-7 sampai H-3 Lebaran. ”Angka ini turun 33 persen dari lalu lintas normal sebesar 570.288 kendaraan,” paparnya.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore