Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 November 2023 | 06.13 WIB

Hadir di Gelar Sastra Budaya, Gus Mus Baca Sajak Cinta hingga Republik Rasa Kerajaan

 

KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

JawaPos.com- Pengasuh Ponpes Roudlatul Tholibin, Rembang, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir menyemarakkan Gelar Sastra Jawa Tengah 2023 bertema Silaturahmi Indonesia, di Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Selasa (31/10) malam. Dalam kesempatan itu, Gus Mus ikut membacakan puisi dan sajaknya.

Beberapa kutipan sajaknya viral. Yakni, tentang ''Republik Rasa Kerajaan''. Bahkan, sejumlah tokoh turut mengunggahnya di X (dulu Twitter). Di antaranya Ulil Abshar Abdalla dan Alissa Wahid (putri sulung Gus Dur).

Dikutip dari Kanal Mata Air YouTube, berikut pernyataan dan pusi lengkap Gus Mus yang juga dikenal sebagai budayawan Nusantara itu.

Sebelum membacakan sajak-sajak, kepada saudara-saudaraku yang beragama Islam, saya minta keikhlasan hati untuk membaca Fatihah, memohon kepada Allah SWT untuk merahmati Palestina dan rakyat Palestina. Untuk merahmati bangsa Indonesia dan Indonesia. Alfatihah…

Dulu pada zaman Orde Baru, saya membaca puisi berakibat ketua panitianya diamankan yang berwenang. Saya pada waktu itu membaca puisi katanya karena ada puisi yang saya baca.  Padahal, saya membaca puisi cuma begini:

Zaman kemajuan/ Inilah zaman kemajuan/Ada sirup rasa jeruk dan durian/ Ada keripik rasa keju dan ikan/ Ada Republik rasa Kerajaan

Malam ini, saya tidak akan membaca yang begitu-begitu lagi. Saya akan membaca puisi-puisi cinta saja. Supaya tidak ada yang tersinggung. Sudah banyak yang tersinggung. Memang saya dahului dengan Fatihah tadi, karena apa namanya, saya termasuk yang risau. Mudah-mudahan yang risau dan galau di atas sana. Di sini enak-anak saja lah. Cinta-cinta saja di sini.

(Setelah itu, Gus Mus membacakan sebuah puisi baru)

Bila kutitipkan dukaku pada langit/ Pastilah langit memanggil mendung/ Bila kutitipkan resahku pada angin/ Pastilah angin menyeru badai/ Bila kutitipkan geramku pada laut/ Pastilah laut menggiring gelombang/ Bila kutitipkan dendamku pada gunung/ Pastilah gunung meluapkan api

Tapi, akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku/ Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku/ Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku/ Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku/ Kusimpan sendiri

Saya dulu pernah nulis puisi tentang negeriku.

Negeriku/ Mana ada sesubur negeriku/ Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung/ Tapi, juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung/ Perabot-perabot orang kaya di dunia dan burung-burung indah piaraan mereka berasal dari hutanku

Ikan-ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku/ Emas dan perak perhiasan mereka digali dari tambangku/ Air bersih yang mereka minum, bersumber dari keringatku/ Mana ada negeri sekaya negeriku/ Majikan-majikan bangsaku, memiliki buruh-buruh mancanegara/ Brangkas-brangkas bank di mana-mana menyimpan harta-hartaku

Negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat/ Rata-rata pemimpin negeriku dan handai taulannya terkaya di dunia/ Mana ada negeri semakmur negeriku/ Penganggur-penganggur diberi perumahan, gaji dan pensiun setiap bulan/ Rakyat-rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan/ Perampok-perampok diberi rekomendasi dengan kop sakti instansi/ Maling-maling diberi konsesi/ Tikus dan kucing dengan asyik berkoalisi

Editor: M Sholahuddin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore