Kepala BKKBN Hasto Wardoyo (Kiri) dalam peluncuran Sistem Informasi Peringatan Dini dan Informasi Peringatan Dini Pengendalian Penduduk (Siperindu)
JawaPos.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasiomal (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo menyoroti, soal penelitian yang menyebut orang stunting bakal berpenghasilan lebih rendah dibanding orang normal. Karena, orang stunting pendapatan hanya 20 persen di masa akan datang.
Menurut Hasto, sebetulnya muara indikatornya adalah stunting. Human capital index proporsi terbesarnya stunting. Meskipun memang ada human development index tapi human capital index lebih presisi untuk menduga.
"Sehingga kelompok manusia stunting dan tidak stunting selisih pendapatannya 20 persen," kata Hasto Wardoyo dalam peluncuran Sistem Informasi Peringatan Dini dan Informasi Peringatan Dini Pengendalian Penduduk (Siperindu) di aula kanto BKKBN, Kamis (19/10).
Dokter Hasto mengatakan ada satu kajian yang lebih dalam bagi satu daerah yang sudah mencapai bonus demografi berarti naik akselerasi pendapatan per kapitanya.
"Kajian ini serious problem dan kajian ini menarik sekali. Jadi kita harus equal equity, itu dari sisi kuantitas dan kita sudah menemukan masalahnya," kata Dokter Hasto.
Sekarang, kependudukan juga terkait dengan kualitas penduduk, yang ditekankan sekarang isu-isunya itu keseimbangan antara kualitas dan kuantitas.
“Kualitas itu ada stunting, kualitas yang sangat sarat dengan kuantitas secara individu, kalau tadi kuantitas secara populasi, stunting dari tinggi badannya, berat badan, ini kualitas yg sangat dekat dengan kuantitas secara individu,” ujar Hasto.
Menurut Hssto, Aging Population yang meningkat berkaitan erat dengan sadwich generation. Tahun 2035, Generasi Sandwich yang harus menanggung orang tuanya. Sementara, menurut UN ESCAL 2023, aging population 2022 di Indonesia sebesar 277,534.
Karena itu, lanjut Hasto, indeks pembangunan manusia akan tergeser, maka rata-rata ekonominya rendah. "Kalau generasi sekarang lincah gerak dan tinggi badannya maka akan menjadi generasi yang hebat di masa depan," jelas Hasto.
Dalam acara yang sama diadakan juga penandatanganan MoU BKKBN dengan Perkumpulan Guru Madrasah Indonesia (PGMI). Generasi hebat sasaran utamanya adalah remaja.
“Remaja menjadi populasi strategis sasaran, kalau kita mau merubah kualitas kuantitas itu siapa yang akan hamil, siapa yang akan nikah, siapa yang akan jadi pasangan hidup baru ya remaja, yang berada di bangku sekolah dan kampus," imbuhnya.
Diketahui, pada tahun 2022, terdapat sekitar 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat (24,00 persen) penduduk Indonesia berada di kelompok umur antara 16-30 tahun atau disebut sebagai pemuda.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
