Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 13 Oktober 2023 | 01.10 WIB

Wujudkan Nol Korban Bencana, Ini Strategi BMKG

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Bagus Ahmad Rizaldi/Antara - Image

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati. Bagus Ahmad Rizaldi/Antara

JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berkomitmen untuk mewujudkan visi zero victim atau nol korban bencana. BMKG mewujudkan itu dengan menyelenggarakan Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) serta Tsunamy Ready Community (TRC) di seluruh penjuru Indonesia. 
 
“SLG dan TRC adalah dua strategi yang menjadi senjata BMKG dalam mewujudkan target zero victim. Strategi ini bebentuk edukasi dan pelatihan untuk melatih kesiapsiagaan masyarakat saat terjadi bencana. Hal ini tentu perlu didukung oleh teknologi sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami dari BMKG,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis, Kamis (12/10).
 
"Kesenjangan pengetahuan di masyarakat mengenai gempabumi dan tsunami akan dapat diminimalisir oleh BMKG dengan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan BPBD. Melalui SLG dan TRC, saya berharap masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana tidak panik karena sudah terampil dalam evakuasi jika terjadi bencana gempabumi dan tsunami," imbuhnya.
 
 
Sekolah Lapang Gempa memiliki peran dalam memberikan informasi mengenai potensi bahaya gempabumi dan tsunami. Sementara, Tsunami Ready Community adalah program peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami dengan berbasis pada 12 indikator yang telah ditetapkan UNESCO-IOC. 
 
Tujuannya, menyiapkan masyarakat agar senantiasa siap siaga dan tidak gagap dalam menghadapi ancaman gempabumi dan tsunami. Selain itu, guna mewujudkan SAFE OCEAN, salah satu outcome dari UNDecade for Ocean Science. 
 
"BMKG turut berkontribusi dalam mendukung pemerintah daerah dengan memberikan Peta Bahaya Tsunami. Hal ini bertujuan agar sebagai acuan pemerintah daerah dalam menyusun mitigasi gempabumi dan tsunami di daerahnya," ucap Dwikorita. 
 
 
Peristiwa Tsunami Aceh, Tsunami Palu serta Selat Sunda menunjukan selain membangun sistem peringatan dini yang cepat, tepat, dan akurat, juga dibutuhkan kesigapan masyarakat dalam merespon peringatan dini tersebut. Maka dari itu, BMKG juga terus berupaya mewujudkan Early Warning, Early Action guna meminimalisir risiko bencana.
 
Seluruh program yang dilaksanakan oleh BMKG menerapkan prinsip keberlanjutan, mengingat bencana gempabumi dan tsunami tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Hal ini penting agar sistem peringatan dini tetap diperkuat dan sesuai dengan kemajuan teknologi, seiring dengan penguatan kesiapan dan ketangguhan masyarakat sebagai subjek.
 
“Waktu kedatangan tsunami berbeda-beda. Contohnya Tsunami Palu hanya butuh 2 menit setelah gempa, sementara di tempat lain waktu tiba tsunami bisa 30 menit atau lebih lama. Oleh karenanya, kami ingin masyarakat bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menyelamatkan diri," pungkas Dwikorita. 
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore