JawaPos.com - Hipertensi atau tekanan darah tinggi biasanya selalu berdampak dengan kemunculan penyakit lain seperi penyakit jantung, stroke, hingga gagal ginjal. Hal ini yang menjadikan hipertensi sebagai penyebab utama kematian di dunia. Untuk mengobatinya pun, pengidapnya mesti mengonsumsi sejumlah obat secara disiplin dalam jangka waktu lama.
Masalahnya, kepatuhan terhadap konsumsi obat ini masih rendah dilakukan pengidap hipertensi. Sehingga, tekanan darah selalu tak dapat dikontrol dan di atas angka normal, yaitu di bawah 120/80 mmHg.
Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K) dari Heartology Cardiovascular Hospital menjelaskan, dalam beberapa kasus, hipertensi bahkan sulit dikendalikan meski dengan pengobatan khusus. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah hipertensi resisten, yaitu kegagalan untuk mengontrol tekanan darah meskipun telah mengkonsumsi dosis maksimum dari obat yang diberikan dokter.
"Pasien dengan hipertensi resisten biasanya tetap memiliki gejala meski telah mengonsumsi dosis maksimum dari kombinasi tiga obat hipertensi yang berbeda, “ kata dr. Faris kepada wartawan, Selasa (22/8).
Untuk mengatasi hal itu, dr. Faris mengatakan salah satu teknologi yang dikembangkan adalah tindakan Denervasi Ginjal (Renal Denervation). Dengan teknologi itu, ia mengatakan bahwa pengidap hipertensi resisten yang mesti mengonsumsi banyak obat dalam sehari dapat dikurangi.
Adapun prosedur penanganannya, ia menjelaskan dengan cara minimal invasif tanpa beda. ganya dengan memasukkan kateter lewat arteri femoralis (arteri besar pada pangkal paha) untuk kemudian mengeluarkan gelombang radio intens yang diarahkan pada saraf-saraf di sekitar ginjal yang berperan pada mekanisme hipertensi,
"Dilakukan terutama pada pasien yang sudah tidak mempan dengan kombinasi beberapa obat penurun tekanan darah," jelasnya.
"Prosedur denervasi ginjal juga efektif membantu pasien hipertensi yang memiliki efek samping dari obat konvensional, serta pasien yang tidak patuh dan kesulitan mengonsumsi obat hipertensi dalam jangka panjang," imbuh dr. Faris.
Dalam prakteknya, denervasi ginjal ini menurutnya aman untuk ginjal dan tanpa efek samping. Pasalnya, dr. Faris mengatakan bahwa tindakan ini hanya dilakukan kurang lebih satu jam
“Dan setelah 1-2 hari rawat inap pasien bisa langsung pulang, tidak memerlukan implan/alat apapun sehingga sangat efektif untuk menurunkan risiko stroke, gagal jantung, gagal ginjal, penyakit vaskular perifer dan kerusakan pembuluh darah retina yang mengakibatkan gangguan penglihatan," pungkasnya.
Untuk diketahui, tindakan denervasi ginjal ini sendiri belum terlalu banyak dilakukan di Indonesia. Hanya baru lima rumah sakit yang melakukan tindakan ini, salah satunya adalah Heartology Hospital.
"Tersedianya Renal Denervation di Heartology Cardiovascular Hospital terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien hipertensi, menghindari komplikasi yang lebih jauh berupa kerusakan organ-organ tubuh yang penting akibat kasus hipertensi yang tidak tertangani dengan baik," tandas Marketing Director Heartology Harmeni Wijaya.