
Menkopolhukam Mahfud MD saat berada dikantornya di Jakarta, Rabu (13/11).MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
JawaPos.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD, menyoroti maraknya politik uang atau money politic yang mengotori demokrasi Indonesia. Menurut dia, praktik nakal ini sudah ada sejak era orde baru.
Hal itu disampaikan Mahfud saat memberikan sambutan pada acara "Silaturahmi Nasional Asosiasi DPRD Seluruh Provinsi Indonesia", di Hotel Paragon, Jakarta, Senin (24/2). Dia menyebut praktik politik uang ini sudah mengalami perubahan sistem.
“Kalau dulu money politic dalam pemilihan kepala daerah itu ada di DPRD, sekarang berpindah ke pimpinan partai,” kata Mahfud.
Dia menuturkan, saat DPRD diberi kekuasaan memilih kepala daerah, para calon kerap diminta uang untuk meloloskannya. Sedangkan setelah pemilihan kepala daerah dilakukan langsung oleh masyarakat, para calon membayar ke partai politik.
“Orang kan bilang itu tidak ada, tetapi yang kalah itu melapor, yang menang tidak, yang kalah melapor, saya bayar sekian ke pimpinan partai. Dia terima ini, ini, ini,” kata Mahfud.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu menyebut, DPRD pada masa orde baru hanya berperan sebagai pembenar keputusan pemerintah pusat. Sedangkan fungsi sebagai wakil rakyat tidak dijalankan oleh DPRD. Sehingga korupsi pun rentan terjadi.
“Maka pada awal reformasi di dalam Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 disebutkan bahwa DPRD itu adalah lembaga legislatif yang sejajar kedudukannya dengan kepala daerah. Dia bisa meminta pertanggungjawaban kepala daerah, DPRD bisa menjatuhkan kepala daerah di tengah jalan,” jelasnya.
Revisi Undang-undang itu pun tak begitu saja mengembalikan marwah DPRD. Karena kerap terjadi praktik menjatuhkan kepala daerah tertentu, karena kepala daerah itu tak menyetor uang ke DPRD.
Berkaca dari itu, akhirnya pada 2004, Undang-undang itu pun diubah. Kewenangan mencopot kepala daerah dihapus. Dan DPRD hanya dibolehkan untuk mengawasi pemerintah.
“(DPRD) Ketika diberi kekusaan menjadi kebablasan, ketika diturunkan lagi, buruk lagi. Mari kita sekarang mencari keseimbangan baru. Politik itu begitu, mencari keseimbangan baru,” pungkas Mahfud.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
