Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Juli 2023, 18.39 WIB

Universitas Kristen Indonesia Bersama Kantor Staf Presiden RI Diskusikan Stunting di Papua

Tenaga Ahli Utama KSP Theo Litaay; Ketua STIKES Papua Dr. dr. Marthen Sagrim, SKM., M.Kes.; Tim OSSOF UKI Dr. dr.Louisa A. Langi, M.Si., M.A.; Tim OSSOF UKI Prof. Dr. Charles O.P. Marpaung, M.S.; Rekt - Image

Tenaga Ahli Utama KSP Theo Litaay; Ketua STIKES Papua Dr. dr. Marthen Sagrim, SKM., M.Kes.; Tim OSSOF UKI Dr. dr.Louisa A. Langi, M.Si., M.A.; Tim OSSOF UKI Prof. Dr. Charles O.P. Marpaung, M.S.; Rekt

JawaPos.com - Tim One Student Saves One Family (OSSOF) UKI menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Papua yaitu Universitas Kristen Papua, UNCEN, UNIPA, Universitas Internasional Papua, dan STIKES Papua, dalam melaksanakan percepatan penurunan angka stunting di Papua.

Tim OSSOF UKI bersama perwakilan dari Papua melakukan audiensi di Kantor Staf Presiden RI, Senin (10/7/2023), untuk membahas penanganan stunting tersebut.

Menurut Kemenkes RI, stunting adalah gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk, terserang infeksi yang berulang maupun stimulasi psikologis yang tidak memadai. Stunting juga merupakan masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang pada anak.

Tenaga ahli utama Kedeputian II Bidang Pembangunan Manusia, Kantor Staf Presiden (KSP) RI, Dr. dr. Brian Sri Prahastuti, MPH dan Tenaga Ahli Utama KSP Theo Litaay menerima Tim OSSOF UKI dan menjelaskan bahwa Kantor Staf Presiden mempunyai tugas untuk memberikan dukungan kepada Presiden dan Wakil Presiden dalam melaksanakan percepatan penurunan angka stunting.

“Program penanganan stunting di Papua merupakan suatu hal yang urgent. Pemerintah berkolaborasi dengan perguruan tinggi dapat memberikan edukasi kepada masyarakat Papua untuk mengatasi stunting dan juga menyelesaikan permasalahan kesehatan pada ibu hamil seperti HIV, tuberculosis dan malaria,” ujar Dokter Brian Sri Prahastuti.

Menurut Dokter Brian Sri Prahastuti, kendala pelayanan kesehatan di Papua adalah belum merata infrasruktur kesehatan dan distribusi tenaga kesehatan serta sustainabiliti keberadaan dokter yang menyebabkan ketimpangan akses layanan. Masalah keamanan di Papua juga menjadi kendala dalam penanganan stunting di Papua yang juga perlu mendapat perhatian.

“Tidak semua kabupaten di Papua memiliki RSUD. Papua juga mengalami kekurangan pasokan air bersih dan listrik untuk pelayanan kesehatan di Puskesmas. Sehingga sebaiknya ada Rencana Jangka Panjang dengan memperhatikan kekurangan-kekurangan di atas untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Papua. BKKBN sudah melakukan pendataan keluarga di Papua dan sebaiknya melibatkan perguruan tinggi dalam menyelesaikan permasalahan,” ujar Dokter Brian.

Kantor Staf Presiden RI memiliki kebijakan pemenuhan tenaga kesehatan untuk jangka pendek, menengah dan jangka panjang. “Kami juga memberikan rekomendasi memberikan layanan Ante-Natal Care yang integratif untuk penyakit anemia, TB dan HIV serta program penanganan gizi darurat untuk balita dan bumil,” ujarnya.

Dokter Brian Sri Prahastuti mengharapkan tim OSSOF UKI berkolaborasi dengan perguruan tinggi di Papua memberikan bekal atau materi untuk mahasiswa yang akan turun ke lapangan. “Mahasiswa dilengkapi dengan alat pengumpulan data seperti Family Folder dengan format Program Indonesia Sehat – Pendekatan Keluarga (PIS-PK) dan aplikasi elektronik- Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) beserta intervensinya,” kata dokter Brian.

KSP RI juga mengarahkan adanya kebijakan administratif secara berjenjang dari pemerintah pusat ke daerah tentang keterbukaan Organisasi Perangkat Daerah terkait data pendukung intervensi. Serta diperlukan penguatan tenaga gizi, puskesmas dan puskesmas pembantu. Dan juga pengawasan oleh Dinas Kesehatan.

Dalam sesi diskusi yang dimoderatori oleh Dr.med. dr. Abraham Simatupang, MKes mengemukakan salah satu faktor yang juga perlu ditangani adalah pola makan yang sudah mulai terlalu dipengaruhi oleh produk makanan serba instan.

“Masyarakat, terutama kaum ibu perlu diedukasi kembali menyiapkan makanan secara mandiri menggunakan bahan pangan lokal yang tersedia. Keterlibatan perguruan tinggi dirasakan perlu untuk percepatan penurunan angka stunting karena akan memberikan empati yang tinggi bagi mahasiswa akan permasalahan masyarakat,” ujarnya.

Pertemuan ini diikuti oleh Ketua STIKES Papua, Dr. dr. Marthen Sagrim, SKM., M.Kes dan Rektor Universitas Kristen Papua, dr. Sophian Andi, M.Pd.K.

“Untuk tindak lanjut dan pelaksanaan program perlu penyesuaian kurikulum perguruan tinggi. Kami sudah siap untuk melakukan penyesuaian kurikulum di Stikes dengan pendekatan MBKM (Merdeka Belajar-Kampus Merdeka),” ujar Dokter Marthen Sagrim.

Program One Student Saves One Family UKI
Awalnya, dalam melaksanakan program OSSOF, UKI bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI. Program ini menjadi salah satu program pengabdian kepada masyarakat dari FK UKI ditahun 2015 yg diresmikan oleh Prof Yohana Yembise yang saat itu menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore