Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 7 Juli 2023 | 20.58 WIB

Setelah Penurunan Stunting, Tantangan BKKBN Atasi Perceraian dan Broken Home

Ilustrasi stunting. Dimas Pradipta/JawaPos.com

JawaPos.com – Pengendalian penduduk dan penurunan stunting (tengkes) menjadi fokus dalam Puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-30 di Banyuasin, Sumatera Selatan, kemarin (6/7). Keluarga berperan penting dalam hal ini.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyatakan keluarga sebagai fondasi utama dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal itu merupakan poin penting peringatan Harganas tahun ini.

"Saya ingin mengajak seluruh keluarga di Indonesia untuk menjaga kualitas keluarga dan anak-anak kita agar dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal," ucapnya.

Hasto melanjutkan, ada dua amanah yang diberikan kepada BKKBN. Yakni, menjaga pertumbuhan penduduk yang seimbang dan menjaga kualitas penduduk. Menurut dia, tantangan tidak hanya dalam menekan jumlah kelahiran. ’’Tantangan penting selanjutnya adalah sebagian provinsi zero growth dan ada provinsi dengan jumlah anak yang banyak. Fokus lainnya adalah penurunan stunting,’’ katanya.

Untuk itu, tema Harganas kali ini adalah Menuju Keluarga Bebas Stunting untuk Indonesia Maju. Selanjutnya, Hasto menyebut tren pernikahan di usia yang lebih dewasa meningkat. Rata-rata 22 tahun untuk perempuan. ’’Perceraian dan broken home juga merupakan tantangan baru,’’ ujarnya.

Kualitas penduduk dan keluarga merupakan hal yang penting dalam bonus demografi. Indonesia akan mengalami bonus demografi pada 2035.

Dalam kesempatan itu, Hasto juga mengukuhkan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru serta Bupati Banyuasin Askolani dalam program Bapak Asuh Anak Stunting Sumatera Selatan. Menurut Hasto, keduanya berpartisipasi aktif dalam menyukseskan Bangga Kencana dan penurunan stunting.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Presiden Ma’ruf Amin menyatakan, menurut statistik PBB, balita di dunia 22 persen stunting. Jumlahnya mencapai 149 juta balita. ’’Dari jumlah tersebut, sebanyak 6,3 juta pada 2020 adalah balita Indonesia,’’ tuturnya.

Dia menuturkan, konsekuensi dari stunting bukan semata-mata persoalan tinggi badan. Tapi, yang lebih buruk adalah kualitas hidup yang menurun. Dampak tengkes saat kecil akan memengaruhi kehidupan di masa depan. ’’Keluarga jadi aktor penting dalam mengatasi tengkes,’’ terangnya.

Karena itu, keluarga diharapkan punya kesadaran untuk mencegah stunting dengan pemenuhan gizi dan menjaga sanitasi. Ma’ruf menyebut Indonesia punya banyak pangan lokal yang bisa dimanfaatkan.

Petugas kesehatan juga diminta melakukan sosialisasi lewat fasilitas kesehatan atau posyandu. Selain itu, dia meminta agar memutus kawin anak karena ikut berpengaruh pada tengkes untuk keturunannya.

Di sisi lain, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi menyebutkan, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Sekaligus menjadi unit terkecil dalam penanggulangan tengkes. ’’Untuk menjaga kualitas generasi penerus bangsa bebas stunting, kita perlu menjaga calon pengantin (catin) dengan memeriksakan kesehatan di faskes tiga bulan sebelum menikah,’’ jelasnya.

Indonesia memang menargetkan penurunan stunting besar-besaran. Pada 2024 target tengkes hanya 14 persen. Padahal, menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, prevalensi tengkes nasional masih 21,6 persen. Status tengkes di beberapa daerah masih tinggi.

Menurut Emi, catin perempuan perlu memeriksakan kadar hemoglobin dalam darah, mengukur lingkar lengan atas, serta mengukur berat badan dan tinggi badan. Sementara itu, untuk catin pria, Emi juga menyarankan pemeriksaan kebugaran.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore