
KEMBALI KE SINGAPURA: MB (kanan) tiba di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, dengan didampingi petugas imigrasi kemarin.
JawaPos.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM Silmy Karim mengatakan, kasus seperti Muhtar alias Yatno sebetulnya sudah coba diantisipasi sejak lama. Untuk itu, saat ini pihaknya tengah memproses pengoneksian data imigrasi dengan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Untuk diketahui, saat ini data dua lembaga tersebut belum terkoneksi secara penuh. Imbasnya, data kewarganegaraan yang dimiliki Kemenkum HAM belum tersambung dengan Ditjen Dukcapil. Terkait progres pengoneksian data, lanjut Silmy, saat ini upaya itu tengah berlangsung. ”Sekarang dalam proses,” ucapnya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin.
Dengan terkoneksinya data (Ditjen) Imigrasi dan Dukcapil, semua data bisa tersambung secara digital satu sama lain. Hal itu akan memudahkan proses verifikasi dan validasi data. Soal lamanya waktu yang dibutuhkan, Silmy belum dapat membeberkan secara pasti. Ditjen Imigrasi saat ini sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi International Organization for Standardization (ISO). ”ISO ini sebagai syarat terkoneksinya imigrasi dengan dukcapil,” terangnya.
Sementara itu, Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi tidak berkomentar banyak terkait kasus WN Singapura tersebut. Dia mengatakan, kasus itu sudah dituntaskan. Pihaknya sudah melakukan pencabutan semua dokumen. ”Baik akta kelahiran, KTP elektronik, (maupun) kartu keluarga,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui Ditjen Imigrasi baru saja mendeportasi Muhtar bin Bakri alias Yatno, dosen bahasa Inggris mereka di Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung, Jawa Timur. Dosen itu berpaspor Singapura. Bahkan dia pernah menikah di Blitar.
Sosok Muhtar bin Bakri alias Yatno mendapat banyak catatan dari mantan mahasiswanya di Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung. Salah satunya Mochammad Sholeh Sirri.
Dia mengatakan, Muhtar kerap berbicara dalam bahasa Melayu, aksennya ketika berbahasa Inggris pun sangat Melayu.
Ketika ditanya, Muhtar selalu mengaku dirinya dari luar Jawa. ”Tapi, ya tetap tak menyangka kalau dia warga Singapura dan kemudian ditangkap imigrasi,” kata Sirri yang kini sudah alumnus itu kepada Jawa Pos Radar Tulungagung kemarin (23/6).
Muhtar yang berpaspor Singapura membelalakkan mata karena terungkap bertahun-tahun memiliki KTP Indonesia meski paspornya tetap Singapura. Dia sudah dideportasi pada Kamis (22/6) lalu.
Kasus pria yang sudah hampir empat dekade tinggal di Indonesia itu terungkap saat dia berusaha mengganti nama di paspornya di Kantor Imigrasi Blitar, Jawa Timur. Itu dia lakukan karena hendak mengurus warisan keluarga di Singapura.
Muhtar diketahui pernah menetap di Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru, dan Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung. Dia dikenal sebagai dosen dengan karakteristik ”killer” atau galak kepada mahasiswa.
Muhammad Ibnu, alumnus UIN SATU Tulungagung, kampus lain tempat Muhtar alias Yatno mengajar, mengatakan pernah diminta membenahi komputer di rumah dosennya itu di Desa Tunggulsari pada 2012. ”Saya cuma ketemu empat mata dengan Pak Yatno sekali saja. Dia hanya berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Namun, logatnya agak aneh,” ungkapnya.
Yatno, sepengetahuan Ibnu, sudah menikah dua kali. Kedua istrinya WNI.
Berdasar hasil pemeriksaan, Yatno masuk ke Indonesia pada 1984. Sampai 1998, dia sempat keluar masuk Indonesia hingga sepuluh kali. Yatno menggunakan visa kunjungan dengan paspor Singapura. Tujuan kedatangan untuk menempuh pendidikan.
Semua aktivitasnya berjalan lancar karena Yatno menggunakan dokumen kependudukan Indonesia. Dia punya KTP, KK, bahkan akta kelahiran yang dikeluarkan Pemkab Tulungagung pada 2011. Diduga, dokumen tersebut diperoleh dengan cara ilegal. Sebab, kala itu sistem administrasi kependudukan nasional mudah direkayasa karena belum terhubung secara online.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
