Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 20 Juni 2023 | 21.22 WIB

Universitas Muhammadiyah Jakarta Akan Beri Ruang Untuk Partai Kampanye di Kampus

Ilustrasi Pemilu 2024. - Image

Ilustrasi Pemilu 2024.

JawaPos.com - Universitas Muhammadiyah Jakarta berkomitmen mendukung terselenggaranya Pemilu 2024 yang berkualitas. Oleh karena itu, kampus akan memberikan ruang kepada partai politik (parpol) untuk berkampanye di lingkungan universitas. 
 
Salah satu kegiatannya adalah ajang adu intelektual antar calon legislatif (caleg) maupun antar parpol. Topik pembahasannya mengenai berbagai isu dan masalah yang berkembang di masyarakat. 
 
 
"Tentu kampanye di kampus ini jangan dipahami secara konvensional. Sebagai warga negara yang baik dan berpendidikan, kita semua diharapkan dapat berpartisipasi politik secara bermartabat," ungkap Rektor UMJ,  Ma'mun Murod pada acara wisuda ke-68 Universitas Muhammadiyah Jakarta, di Gedung Nusantara, ICE BSD.
 
 
"Salah satu bentuk yang dapat kita lakukan adalah menolak kampanye politik uang, serta memilih caleg yang dinilai punya integritas tanpa harus melihat asal partainya," lanjutnya. 
 
Adapun isu yang perlu ditonjolkan dalam adu gagasan kampanye kampus nanti di antaranya tentang korupsi, politik berbiaya mahal, stunting, masalah pendidikan terutama terkait biaya kuliah yang mahal, transformasi kesehatan, kerusakan lingkungan, kemiskinan, hingga ketimpangan penguasaan sumber daya ekonomi yang tinggi. 
 
 
"Kebijakan ini bukan hal asing bagi Muhammadiyah. Selama ini secara tak langsung sudah berjalan. Pada kurun waktu 2023 sudah banyak tokoh politik dari beragam parpol yang hadir di UMJ," imbuhnya.
 
Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan Pemilu 2024 tetap dilaksanakan dengan sistem proporsional terbuka, yang terbukti telah menjadikan Indonesia menjadi negara yang sangat liberal dari sisi politik. Sebagai kritik keras atas sistem pemilu yang sangat liberal yang berlangsung sejak 2009 itu, melalui Muktamar Solo tahun 2022 Muhammadiyah mengusulkan Sistem Proporsional Tertutup. 
 
 
Adanya Sistem Proporsional Terbuka dapat menimbulkan aspek negatif, seperti maraknya politik uang juga tingginya biaya politik yang akan berimplikasi pada meningkatnya kualitas dan kuantitas angka korupsi di Indonesia. Berdasarkan Laporan Transparansi Indonesia 2022, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia sebesar 34 poin dari skala 0-100. Angka ini turun 4 poin dari tahun 2021 dan menempatkan Indonesia pada peringkat 110, turun 14 peringkat dibanding tahun 2021 yang berada pada urutan 98 dari 180 negara.
Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore